Solo Traveling ke Yangon, Myanmar : Hari ke-1

Thursday, September 19, 2013

Sebenernya Myanmar punya banyak banget tempat yang wajib dikunjungi selain Yangon, bekas ibukotanya ini. Tapi apa daya rencana pergi yang tadinya 6 hari 5 malem harus dipangkas jadi cuma 3 hari 2 malem karena satu dan lain hal. Itupun di hari ketiga subuh udah harus ke airport untuk pulang. So, kalau kamu lagi nyusun itinerary untuk traveling ke Myanmar dan ingin memasukkan kota Yangon ke dalam list, silahkan baca postingan gw ini lebih lanjut.

Jakarta - Kuala Lumpur - Yangon

Salah satu sebab gw harus memangkas waktu traveling adalah jam penerbangan Air Asia yang berubah. Tadinya dari KL ke Yangon ada pesawat pagi dan sore, begitu juga sebaliknya dari Yangon ke KL. Tapi berhubung cuma ada pesawat pagi jam 6.55 dari KL, jadi harus berangkat dari Jakarta malem sebelumnya naik pesawat terakhir untuk transit dan nginep di LCCT. (Baca postingan: Panduan dan Tips Tidur di LCCT). 

Setelah penerbangan selama kurang lebih 2 jam 30 menit dari LCCT, pesawat akan landing di Yangon International Airport jam 8 pagi (perbedaan waktu Yangon dan KL adalah 1,5 jam). Setelah masuk gedung terminal, ada pemeriksaan imigrasi, beberapa turis ada yang mengajukan Visa On Arrival disana, tapi berhubung gw udah punya Visa Turis (Baca postingan: Mengurus Visa Myanmar), jadi langsung ke kounter pemeriksaan Paspor.  

Hal pertama yang gw lakukan sebelum pergi meninggalkan airport adalah nuker uang. Mata uang Myanmar yang namanya Kyats (cara bacanya: Chets) nggak dijual belikan di negara lain, jadi cuma bisa nuker disana. Itupun mata uang yang diterima adalah US dollar dan Euro. Waktu kemarin kesana kursnya 1 US$ = 976 Kyats. Dan karena gw nuker 200 US$, dapetnya hampir 200.000 Kyats dalam pecahan seribuan dan lima ribuan! Asli, segepok beneurrr dapetnya....

Keluar dari arrival hall, sudah ada jemputan yang bawa papan bertuliskan nama gw dari hotel Ocean Pearl Inn tempat gw nginep. Ini fasilitas gratis lho dari hotelnya, jadi pas booking hotel kita tinggal kasi tau aja naik pesawat apa pas nyampe di Yangon. Kalo nggak ada fasilitas jemputan dari hotel, biasanya orang-orang naik taksi. Taksi disana nggak pake argo, jadi ya mesti tawar-tawaran. Tapi di airport udah ada tulisan tarif taksi resmi ke pusat kota Yangon, yaitu 7000 Kyats jadi turis nggak akan mungkin ketipu, walaupun memang kebanyakan orang Myanmar itu jujur. Alternatif lainnya adalah naik bus, tapi karena tulisannya keriting-keriting semua, jadi nggak tau juga bus itu tujuannya kemana. Nggak semua orang di Yangon jago bahasa Inggris, jadi kalo mau nanya juga belom tentu ngerti.

Perjalanan dari airport Yangon ke hotel sekitar 1,5 jam karena agak jauh dari pusat kota tempat dimana hotel gw berada, udah gitu waktu itu lumayan macet juga. Yang unik, mobil di Myanmar itu setirnya di kanan sama seperti di Indonesia, tapi jalannya di sebelah kanan juga! Jadi ngeri-ngeri gitu deh kalo mau motong jalan... Hahahaha.... Di Myanmar, sepeda motor tidak diperbolehkan, jadi jalanannya nggak ruwet kaya di Jakarta. Sepanjang dari Airport sampe ke Hotel, pemandangannya orang di jalan pada pake sarung. Memang itu pakaian tradisional mereka, atasannya bisa pake kemeja atau bahkan kaos, tapi bawahannya pake sarung tradisional yang disebut Longyi. 

Ocean Pearl Inn

Hotel tempat gw nginep ini walaupun budget hotel tapi recommended banget. Memang di Yangon, hotel termasuk mahal, jadi yang paling pas di kantong adalah hotel semacam ini. Sebenernya lebih pantes dibilang losmen sih, karena bangunannya emang kayak di ruko gitu. 

Semalem biayanya 25 US$ untuk single room, breakfast included (kopi, telur ceplok, roti tawar dan buah). Selain fasilitas jemputan dari airport ada juga shuttle ke airport tiap pagi (6.30) dan sore (14.30) yang juga gratis. Kamar ber-AC, kulkas, TV, ada selimut, handuk, air panas, shampoo, dan sabun. Letaknya juga strategis, tinggal jalan kaki kalo mau ke Botahtaung Pagoda dan ke pusat kota Yangon yang banyak terdapat gedung tua dengan arsitektur kolonial terutama di jalan raya Mahabandoola.


Penilaian overall: Bersih, nyaman, orang-orangnya juga helpful banget. Contohnya waktu minta tolong pesenin taksi ke airport jam setengah 6 pagi untuk pulang,  jam 5 pemiliknya udah ngetok kamar buat make sure gw udah bangun.

No. 215, Botataung Pagoda Road, Pazundaung Tsp., Yangon, Myanmar. 

Phone: (+95-1) 296637, 297007, 297329, 297292
Fax: (+95-1) 297007, 297329, 296637 
E-mail: oceanpel@myanmar.com.mm, phoo.kk@gmail.com



Botahtaung Pagoda


Setelah nyampe di hotel, langsung mandi karena terakhir mandi itu hari kemarinnya pas masih di Jakarta. Tujuan pertama yaitu ke Botahtaung Pagoda atau orang lokal menyebutnya Botahtaung Paya yang emang walking distance dari hotel. Memang sesuai rencana, hari pertama ini mau liat-liat seputar pusat kota Yangon aja yang deket dari hotel, hari kedua baru pergi ke spot-spot yang lokasinya agak jauh. Waktu itu cuaca di Yangon lagi cerah dan terik banget, bahkan panasnya ampun-ampunan. Tapi nggak mengurangi niat gw untuk jalan kaki. Dari kejauhan, rasanya langsung takjub dan setengah nggak percaya tempat yang selama ini gw cuma liat di foto waktu browsing, sekarang ada di depan mata.

Di depan Pagoda ini ada banyak pedagang yang jual buah-buahan dan juga bunga untuk keperluan ibadah orang-orang lokal yang beragama Buddha. Padahal sebatas pengetahuan gw orang Buddha itu nggak pake sajen untuk ibadah. Tapi di Myanmar itu unik, selain mengikuti ajaran Buddha mereka juga percaya kepada roh-roh suci (spirits) atau dalam bahasa lokalnya disebut Nat. Jadi hampir di setiap pagoda selain ada penggambaran wujud Buddha dalam bentuk patung, pasti ada patung-patung Nat
  


Di depan pintu masuk, ada kounter untuk tiket masuk. Dipisahin gitu yang untuk orang lokal dan untuk orang asing. Biayanya 3 US$, atau kalo mau bayar pake Kyats mereka kenain 3000. Penjaga kounternya waktu itu cewe dan ramah banget, bahkan dia cukup surprised waktu gw bilang dari Indonesia. Mungkin karena jarang juga sih orang Indonesia yang jalan-jalan kesana. Terus karena sepatu harus dilepas untuk masuk pagoda, dia bilang titipin aja di kounter itu.  

Masuk ke dalam ruangan utama pagoda ini gw udah kagum banget. Ada hiasan berupa potongan kaca kecil-kecil yang tersebar mulai dari pilar sampai langit-langit. Secara keseluruhan arsitektur kompleks pagoda ini memang mengagumkan dengan ornamen dan ukiran-ukiran yang khas serta warna yang digunakan untuk menghias bangunan juga colorful. Belum lagi sentuhan emas pada beberapa bagian yang semakin membuat pagoda ini berkilauan di siang hari. Stupa yang ada di kompleks pagoda ini juga cukup besar, dan cukup tinggi. Di sekitarnya, orang-orang berdoa membaca kitab sambil menghadap ke stupa ini. Saking takjubnya gw sama keindahan pagoda ini, keliling-keliling nggak nyadar kalo kulit gw kebakar karena saking teriknya matahari.

 


Di Botahtaung ini adalah satu-satunya pagoda dengan Stupa yang kita bisa sampe masuk ke dalamnya. Dan disitulah tempat dimana tersimpan rambut Buddha yang dianggap keramat. Ruangannya cukup sempit dengan dinding penuh ukiran lempengan berwarna emas. Disana juga tersimpan benda-benda antik dari logam sepeti patung-patung dan lonceng yang mungkin juga berkaitan dengan urusan keagamaan.

Yangon Downtown


Udah puas di Botahtaung sampe kulit kebakar, masih juga nekat jalan kaki sampe ke pusat kota Yangon... hehehe... namanya juga backpackeran... Jadi kalo bisa ya seirit mungkin walaupun sebenernya duitnya ada buat naik taksi. Alasan lain kenapa jalan kaki ya supaya bisa betul-betul merasakan pengalaman di sana, juga buat motret bangunan-bangunan unik berarsitektur kolonial di sepanjang jalan. Yang perlu diwaspadai adalah pavingnya nggak rata, jadi harus hati-hati. Rumah yang ada di pusat kota Yangon bentuknya kayak deretan ruko, jadi di bawah digunakan untuk toko, beberapa lantai di atasnya adalah rumah susun. Jalan di sepanjang pusat kota Yangon ini rame banget di siang hari, banyak orang berdagang. Rata-rata mereka menjual makanan, tapi terus terang gw nggak berani nyoba makanannya bukan karena takut soal kebersihannya tapi baunya agak menyengat dan aneh menurut gw.



Kepala mulai kliyengan karena panas dan baru nyadar kalo belum makan untuk sarapan, padahal matahari udah mulai di atas kepala alias udah siang. Jadi akhirnya memutuskan untuk makan dulu. Hampir semua warung dan restoran menuliskan menu dengan menggunakan aksara Myanmar yang keriting-keriting itu, jadi agak bingung juga mau makan apa, sampai akhirnya nemu restoran "Kyet Shar Soon" yang menyajikan Briyani Chicken Rice... Wah, aman! Makan di sana cukup murah sih, untuk seporsi Nasi Biryani dengan Ayam harganya hanya 1.700 Kyats atau 17ribu Rupiah, di Jakarta dapet apaan coba harga segitu. Dari restoran ini, udah keliatan puncak stupa Sule Pagoda/ Sule Paya yang letaknya di tengah-tengah perempatan jalan. Berhubung udah kenyang, udah siap untuk jalan kaki lagi.

Sule Pagoda & Yangon City Hall



Kalo di Jakarta ada bundaran HI sebagai landmark, di Yangon ada bunderan juga sebagai landmark tapi ditengahnya adalah Sule Pagoda. Nggak berencana masuk ke dalam sih karena dari luar juga udah cukup bisa menyaksikan kemegahannya. Persis di luar pagoda ini dibangun pertokoan yang melingkar bentuknya. Disebelah Sule Pagoda ada Yangon City Hall, bangunan yang termasuk cagar budaya kota Yangon ini adalah akulturasi dari arsitektur kolonial dengan arsitektur Burma, termasuk yang paling khas adalah atap bertingkat yang disebut Pyatthat.

Mahabandoola Park & Yangon High Court




Di seberang Yangon City Hall ada taman yang namanya Mahabandoola Park, disitu orang-orang Yangon pada santai-santai sambil ngadem dibawah pohon. Disini juga ada monumen kemerdekaan berbentuk tugu yang dijaga oleh patung-patung Chinte, mahkluk mitologi Burma setengah singa setengah naga. Chinte juga banyak ditemui di pintu-pintu masuk pagoda. Di sekitar Mahabandoola Park, ada juga bangunan penting yang juga termasuk dalam cagar budaya kota Yangon yaitu Yangon High Court. Bangunan ini mudah dikenali karena eksteriornya yang khas menggunakan batu bata berwarna kemerahan, dan ada menara dengan jam pada puncaknya. Bangunan ini sudah tidak berfungsi sebagai pengadilan tinggi lagi karena perpindahan ibukota ke tempat yang baru yaitu Nay Pyi Daw.

Setelah foto-foto beberapa bangunan ini tadi, gw memutuskan untuk pulang dulu ke hotel untuk istirahat, karena emang panasnya bikin cepet capek. Selain itu semalem kan belum tidur yang nyenyak karena tidur di lantai bandara LCCT. Rencananya sore-sorean pas matahari udah agak turun mau balik lagi ke pusat kota buat foto-foto gedung lainnya.

Waktu Hujan Sore-Sore, and The Drama Begins

Sayangnya waktu itu gw lupa setel alarm, dan pas kebangun tiba-tiba udah hampir maghrib aja! Gw langsung panik dan lompat dari tempat tidur dengan perasaan nyesellll senyesel-nyeselnyaaa... Waktu gw yang cuma sedikit di Yangon jadi semakin dikit karena ketiduran... Well, apa mau dikata nasi udah jadi bubur. Buru-buru mandi sore dulu pake air panas, biar paniknya ilang. Udah seger, turun ke lobby hotel, dan....
 

Hujan deras saudara-saudara..... T_T


Langsung bengong lagi, tiba-tiba blank, nggak tau mau ngapain.... Ngeluarin rokok dari kantong, nyalain, dan mulai ngerokok sambil ngeliatin orang lalu-lalang didepan hotel... Sambil mikir, mau ngapain ya gw kalo ujan deres kaya gini. Tujuan utama gw kesana kan mau foto-foto gedung, trus kalo ujan berarti useless donk. Sebenernya dari referensi yang gw baca, September itu emang musim hujan di Yangon, tapi gw nggak ngira kalo ujannya bakal se-deres itu. Abis ngisep sebatang rokok, gw naik lagi ke kamar sambil liat peta, dan baca buku Lonely Planet yang jadi guidance gw disana. Setelah baca-baca, gw tau kalo kayaknya nggak mungkin foto-foto gedung lainnya karena letaknya agak lebih jauh dibanding dengan gedung-gedung yang udah gw foto tadi siang. Akhirnya gw putuskan untuk kembali ke seputar Sule Paya. 
Untung di deket hotel ada toserba yang lumayan lengkap, jadi gw bisa beli payung dulu. Sepanjang perjalanan ke pusat kota, sempet ujan berenti, tapi tiba-tiba ntar deres lagi. Nyampe di Sule Paya udah agak gelap, dan ternyata kalo malem Sule Paya disinarin lampu gitu jadi makin keren. Tiba-tiba gw inget kalo pernah liat foto Sule Paya ini difoto dari posisi yang agak tinggi, semacam dari jembatan penyeberangan. Maka gw cari-carilah jembatan penyeberangan itu.

Theingyi Zei Market & Singapore Food Junction


Dan akhirnya ketemu juga jembatan penyeberangan ini posisinya di depan pasar Theingyi Zei. Pas nyampe di atas jembatan, viewnya persis kaya yang gw liat di foto itu. Mulai deh jepret-jepret foto lagi sambil payungan dan lensa yang berembun. Bisa diliat kalo fotonya agak goyang karena cuma pake satu tangan. Hari semakin gelap dan ujanpun masih nggak berhenti. Dengan kondisi yang kaya gini, semakin nggak kondusif buat motret. Kalo gitu mendingan cari makan malem aja. Dari referensi buku Lonely Planet nggak jauh dari situ katanya ada warung-warung grill and beer. Wah, cocok nih ngebir di udara yang dingin. Pas nyampe tempatnya, nggak kaya yang gw bayangin. Ada sih ikan bakar gitu tapi kayak kurang asik. Lagi-lagi bingung mau ngapain.


Akhirnya balik ke jembatan penyeberangan tadi karena disana ada food court namanya Singapore Food Junction dengan papan bertuliskan Dagon Beer. Well, at least jelas kalo disitu ada beer-nya. Soal makanan mudah-mudahan seleranya cocok. Pas masuk, langsung disambut sama pelayannya yang nggak bisa bahasa Inggris. Untung menunya ada tulisan latin-nya jadi at least tau mau pesen apa. Gw langsung nunjuk chicken curry, dan pas mau mesen nasi putih, gw bingung karena nggak ada di menu. Gw bilang ke pelayannya, "rice", dia nggak paham juga. Pas gw bolak-balik itu menu, ada menu namanya "steamed rice", dalam hati mikir, "Ohh... Ini kali ya nasi putih". Dan gw pun memesannya bersama dengan sebotol besar Dagon Beer. Beer di Myanmar juga murah, harganya cuma 1400 Kyats untuk yang botol besar itu. 
Pas makanan dateng, gw bingung kok ada cap cay. Ternyata steamed rice tadi itu adalah nasi disiram dengan tumisan cah sayur-sayuran... Well, walhasil gw makan kari ayam sama nasi cap cay... Hahaha... Nggak nyambung tapi ya udah lah ya, udah terlanjur pesen. Habis dari situ, jalan kaki lagi ke Sule Paya untuk motret Sule Paya pas lagi malem. Jam sudah menunjukkan pukul delapan dan jalanan waktu itu udah mulai sepi. Akhirnya gw milih naik taksi untuk pulang ke hotel dengan tarif yang surprisingly murah banget cuma 1500 Kyats.

Planning for The 2nd Day

Melihat kondisi hari ini yang ujan melulu, gw pikir agak nggak mungkin kalo gw keliling-keliling dengan berjalan kaki lagi, apalagi lokasi yang gw mau tuju di hari kedua lebih jauh-jauh jaraknya. Gw iseng nanya ama resepsionis kira-kira kalo sewa mobil ama supir sehari berapa, katanya sekitar 50.000-60.000 Kyats dari jam 8 pagi sampe jam 4 sore. Pas gw itung-itung duit yang gw bawa masih cukup banget untuk sewa mobil dan akhirnya gw bilang kalo gw mau sewa mobil! Gagal deh rencana liburan bergaya backpack yang hemat, tapi daripada gw nggak jadi liat apa-apa udah pergi jauh-jauh ke Yangon ya kan.

Karena hari kedua udah aman dan terjamin, akhirnya bisa tidur nyenyak nyiapin tenaga buat besok! Yeayy!

You Might Also Like

5 comments

  1. Did u go to Bagan? I think thats the best of Myanmar ;)

    ReplyDelete
  2. Sayangnya nggak sempett… Karena satu dan lain hal harus memangkas waktu jalan-jalan yang tadinya 6 hari 5 malem jadi cuma 3 hari 2 malem.

    ReplyDelete
  3. Untuk solo traveller ke Myanmar kira-kira aman dan mudah gak ya ?

    ReplyDelete
  4. Insha'allah aman mas, aku juga kebetulan ini kemarin solo traveling ke sana :)

    ReplyDelete
  5. Kalo gitu aku masukin Myanmar ke daftar destinasi travelling ku berikutnya. Btw thanks postingan nya. Ngebantu, termasuk tentang Visa. Ternyata harus pake Visa segala buat masuk ke negara itu.

    ReplyDelete

Like Me on Facebook

Pinterest Board

Subscribe