Dubai: Padang Pasir Rasa New York

Monday, December 30, 2013

Nggak salah memang menjabarkan Dubai seperti judul di atas. Gimana enggak, negara bagian terkaya di Uni Emirat Arab ini dua puluh tahun yang lalu masih berupa gurun pasir. Tapi sekarang, gedung-gedung pencakar langit berbaris rapat di sepanjang jalan Sheikh Zayed Rd. Beruntung di bulan Maret 2013 yang lalu ada kesempatan untuk menapakkan kaki di sana, selepas menunaikan ibadah Umrah di tanah suci.

Banyak orang mengira Dubai bisa semaju sekarang ini karena mereka adalah penghasil minyak. Tetapi ternyata faktanya, pemasukan terbesar adalah dari sektor trading dan juga tourism-nya. Emang keliatan sih, kalo pembangunan yang berhubungan dengan pariwisata disana memang kayanya total banget. Berhubung traveling kala itu di-arrange oleh biro perjalanan, jadi di tulisan ini gw nggak bisa banyak ngasi tips-tips ataupun saran dalam membuat itinerary. Tapi, kurang lebih gw bisa sharing beberapa tourist attraction yang wajib didatangi dari pengalaman di Dubai selama tiga hari dua malam. Walaupun tulisan ini telat banget ditulisnya, tapi mudah-mudahan masih relevan ya kalo ada yang lagi nyari referensi buat ke sana.

DAY 1

Abu Dhabi International Airport
Mejeng di parkiran Abu Dhabi International Airport sebelum naik bus ke Dubai
Kiri: Arrival Terminal di Abu Dhabi International Airport
Kanan: Pemandangan di sepanjang perjalanan ke Dubai

Berhubung maskapai yang kita pakai waktu itu adalah Etihad yang bukan dimiliki oleh negara bagian Dubai tetapi merupakan flag carrier dari Uni Emirat Arab, jadi kita ke Dubai via Abu Dhabi. Perjalanan dari Airport Abu Dhabi ke Dubai memakan waktu kira-kira dua jam naik bus. Dan sebagaimana pemandangan di negara timur tengah, sepanjang perjalanan yang kita liat ya gurun dan gurun lagi. Tapi berbeda dengan gurun di Arab Saudi yang pasir melulu, gurun di UEA masih lebih banyak semak-semak.

Golden Tulip Suites
Penginapan ini lebih tepat dibilang serviced apartment sih sebenernya, karena kamarnya gede-gede dan ada kitchenette alias dapur kecil di masing-masing kamar. Dan gw sukanya di situ adalah lokasinya yang deket banget kalo mau jalan kaki ke Mall of The Emirates. Dan kalo mau kemana-mana naik Dubai Metro, juga tinggal jalan ke stasiun Sharaf DG, atau stasiun Mall of The Emirates yang bisa diakses melalui jembatan penyeberangan dari mall. Untuk sarapan, penginapan ini menyediakannya di Le Mode Cafe yang merupakan vendor di situ. Makanya, rasa makanannya di atas rata-rata dari standar breakfast hotel. Try their sandwiches, it tastes soooo good. Oh iya, kalo butuh koneksi internet buat posting foto-foto ke social media, Wi-Fi di cafe ini gratis dan kenceng. ;P

Mall of The Emirates
Dubai Ski, cuma foto dari luarnya aja


Interior Mall of The Emirates

Buat gw, mall ini udah gedeee banget. Tapi ternyata ini bukan mall yang paling gede di Dubai. Mungkin the second largest kali ya. Meskipun begitu, mall ini punya daya tarik tersendiri karena ada Dubai Ski disitu. Hebat ya, di negara padang pasir tapi punya tempat buat main ski walaupun indoor. Dan brand-brand fashion internasional hampir semuanya bisa ditemui di situ. Di mall ini juga ada Carrefour lho. Wait, ngapain jauh-jauh ke Dubai mampirnya ke Carrefour juga? Nahh… Jawabannya adalah karena di Carrefour ini menjual suvenir-suvenir khas Dubai dengan harga yang fixed price. Soalnya selain di situ, suvenir juga bisa dibeli di sekitar Spice & Gold Souq yang tergolong pasar tradisional. Kalo belanja di pasar kan tau sendiri seninya harus jago tawar-menawar. 

Dubai Metro
Loket Karcis Dubai Metro
Mejeng dulu sambil nunggu kereta dateng

Salah satu public transportation yang utama di Dubai adalah menggunakan Dubai Metro ini. Keretanya otomatis sepenuhnya alias tanpa pengemudi. Dan Guiness World Records menobatkan Dubai Metro sebagai "World's longest fully automated metro network" karena membentang sejauh 75 kilometer. Ada dua jalur yang sudah dioperasikan yaitu Red Line dan Green Line. Sementara kedepannya masih ada tiga jalur lagi yang masih dalam tahap perencanaan. Harga tiket untuk naik Dubai Metro ini sangat bervariasi tergantung dari jarak tempuh tujuan yang ingin kita capai. Untuk lebih detailnya silahkan lihat di website mereka.

Kiri: Nggak heran kalo jembatan ke stasiun Metro panjang banget, jalan disana lebar-lebar
Kanan: Departure & Arrival Platform Dubai Metro

Waktu itu kita naik Dubai Metro dari stasiun Mall of The Emirates untuk menuju ke Dubai Mall. Walaupun nama stasiun ini sama dengan nama mall yang terkoneksi dengannya, tapi jangan kira kalo stasiunnya nempel sama bangunan mall. Jalan kaki di jembatan penguhubung dari mall ke stasiun Dubai Metro masih alamak jauhnyaaa. Tapi tenang ada conveyor belt kok, itu lho, semacam eskalator tapi yang mendatar aja. Setelah membeli tiket di loket, kita akan dikasi kartu Nol namanya. Kartu ini akan diisi kredit senilai tarif perjalanan kita. Dan bisa digunakan untuk perjalanan pergi dan pulang. Oh iya, sebagian gerbong dari Dubai Metro ini dikhususkan untuk penumpang wanita dan anak-anak.  Apalagi di jam sibuk, malah alokasinya lebih dari separuh rangkaian. Waktu itu kita juga sempet salah masuk trus ditegur sama ibu-ibu disitu, pindah deh ke gerbong lain... Hehehehe. 

DAY 2

Burj Al Arab di Pantai Jumeirah
Berfoto di pantai Jumeirah dengan Burj Al Arab sebagai latarnya 
Di rombongan kita waktu itu ada celeb juga lho. Can you spot them??

Pantai yang banyak sekali dikunjungi wisatawan di Dubai ini sih memang pemandangannya nggak se-kece pantai-pantai yang kita punya di Indonesia. Tapi at least pantai ini emang bersih dan juga pasirnya putih. Plus, airnya jernih berwarna biru kehijauan. Walaupun Dubai adalah negara yang mayoritas penduduk aslinya adalah muslim, tapi negara ini memang berpikiran terbuka. Terbukti dari turis-turis di pantai ini yang bebas berbikini ria sambil berjemur. Kalo ada turis di pantai ini yang nggak berbikini alias pake baju full pasti tujuannya tidak lain adalah untuk foto-foto. Hehehe... Karena memang disini adalah spot yang bagus buat foto dengan latar belakang Burj Al Arab.

Keinginan pemerintah Dubai untuk membuat hotel dengan bentuk arsitektural yang khas, yaitu pada Burj Al Arab ini memang tepat banget. Karena walaupun bukan lagi menjadi hotel dengan bangunan tertinggi di dunia karena telah dikalahkan oleh hotel lainnya yang juga berada di Dubai yaitu Rose Rayhaan, tetapi Burj Al Arab tetap menjadi ikon Dubai. Desain hotel bintang tujuh ini mengambil inspirasi dari layar kapal tradisional Arab & India yang disebut Dhow. Konon sih kalo ke hotel ini nggak bisa main masuk aja, tapi setidaknya kalo nongkrong-nongkrong sambil high tea gitu baru deh boleh. Tapi kebayang gak sih secangkir teh atau kopi disitu harganya berapa? Hehehe....

Naik Abra Water Taxi ke Gold & Spice Souq

Deretan perahu Abra Water Taxi di Dubai Creek


Di atas Abra Water Taxi 

Setelah melihat sisi moderen Dubai, kita rasanya akan seperti naik mesin waktu saat mengunjungi distrik Deira. Daerah ini memang masih kuat nuansa tradisionalnya. Kalo mau lebih berasa tradisional, naik deh Abra water taxi di Dubai Creek dari dermaga Dubai Old Souq ke dermaga Deira Spice Souq. Deket banget sih jaraknya, cuma kaya nyebrang sungai aja tapi sebuah pengalaman unik sambil bisa foto-foto bangunan di sisi kanan kiri sungai dengan aristektur yang masih asli. Setelah nyampe di dermaga Deira Spice Souq, tinggal jalan kaki dikit untuk nyampe di Spice Souq & Gold Souq. Gw sebenernya lebih tertarik untuk masuk ke Spice Souq, tapi karena rombongan pada lebih excited ke pasar emas alias Gold Souq ya apa boleh buat ngikut aja, takutnya kepisah dan nyasar.

Kiri: Suasana di Gold Souq
Kanan: Najmat Taiba, cincin terbesar di dunia

Selain emas, di Gold Souq juga bisa belanja oleh-oleh khas Dubai

Yang namanya pasar emas, isinya sederetan ya toko emas semua. Berhubung gw sendiri gak ada minat liat-liat emas, jadi cuma keliling-keliling aja di sekitar situ. Melewati gang-gang yang ada di pasar ini malah cukup banyak yang menarik. Ada suvenir-suvenir khas Dubai yang bisa dijadiin oleh-oleh seperti miniatur Burj Al Arab, miniatur Burj Khalifa, kaos-kaos bertuliskan Dubai, dan yang paling cewe gw suka adalah sepatu dengan manik-manik yang 'Timur Tengah' banget. Atau yang mau cari kostum belly dancing juga ada tuh yang jual disitu... Hahaha. Bukan Dubai namanya kalo nggak terobsesi untuk menciptakan segala sesuatu yang "ter". Ada mall ter-besar, gedung ter-tinggi, dll. Nah di pasar emas ini ada cincin terbesar di dunia yang diberi nama Najmat Taiba. Cincin ini dibuat dengan emas 21 karat, dan beratnya hampir 64 kg. Selain itu cincin ini juga dihiasi 615 batu kristal Swarovski dengan berat 5,1 kg. Edannnn....

Desert Safari
Dune Bashing dengan menggunakan 4x4 Land Cruiser

Colongan foto pre-wed di gurun

Selesai dari Spice & Gold Souq, kita pulang dulu ke hotel untuk istirahat sebentar. Karena kurang lebih jam 3 sore kita udah dijemput dengan iring-iringan mobil 4x4 Land Cruiser yang semuanya berwarna putih. Lokasinya agak ke luar dari pusat kota, dan pas lagi enak-enak (ke)tidur(an) tiba-tiba aja gitu mobilnya menepi keluar dari jalanan aspal untuk menuju gurun pasir. Disini pemandangannya oke banget, full dengan bukit-bukit pasir berwarana oranye. Sebelum mulai Dune Bashing, kita semua diminta turun dulu karena semua mobil mesti di check dulu kesiapan mesin dan ban-nya.

Begitu udah siap, langsung deh si driver nyetel lagu ajeb-ajeb berbahasa Arab sambil tancap gas naik turun bukit pasir udah kaya naik roller coaster. Dan dengan liarnya si driver ngepot-ngepot aja gitu di turunan yang curam. Sesekali iringan mobil berhenti untuk ngasi kita jeda biar nggak mual dan juga untuk ngasi kita kesempatan foto-foto. Saat Matahari hampir terbenam, ajrut-ajrutan di pasir akhirnya disudahi. Kalo mau tau seperti apa serunya Dune Bashing, silahkan liat video di bawah ini.


Suasana di desert camp

 
Sajian tari-tarian selama makan malam di desert camp

Berikutnya kita menuju ke desert camp untuk menikmati fasilitas tambahan dari tur Desert Safari ini. Camp-nya keren sih, semacam perkampungan di tengah padang pasir gitu. Ditengah-tengahnya ada panggung melingkar untuk pementasan hiburan. Di sekeliling panggung adalah meja-meja makan pendek yang memang didesain untuk lesehan, lengkap dengan bantal-bantal dan permadani khas Timur Tengah. Beberapa fasilitas tambahan disitu ada yang berbayar ada pula yang gratis. Bisa naik unta, naik ATV, menghisap Shisha, tato Henna, dan masih banyak lagi. Sambil menikmati makan malem, hiburannya dimulai deh. Dan yang paling ditunggu-tunggu tentu adalah tari perutnya... Hehehe.

DAY 3
Atlantis Hotel di The Palm Jumeirah
Atlantis Hotel, difoto dari dalam monorail 

 
Kiri: Di dalam monorail menuju Palm Jumeirah
Kanan: Lagi-lagi colongan foto pre-wed
Bawah: Mesin ATM emas Gold to go

Ini adalah hari terakhir kita di Dubai dan kita masih belom berhenti-berhentinya kagum dan takjub sama kota ini. Apalagi pas kita main ke gugusan pulau buatan berbentuk pohon palem bernama The Palm Jumeirah. Dubai berencana untuk punya tiga kepulauan buatan berbentuk pohon palem seperti ini, tapi yang dua lainnya yaitu Palm Deira dan Palm Jebel Ali masih belom selesai dibangun. Secara garis besar gugusan pulau ini terdiri dari tiga bagian: Bagian yang menyerupai batang pohon (yang menghubungkan pulau dengan daratan Dubai), bagian yang menyerupai pelepah palem, dan yang terakhir adalah pulau terluar berbentuk bulan sabit (berfungsi melindungi bentuk palem ini dari abrasi ombak).


Untuk menuju ke Atlantis Hotel yang berlokasi di ujung atas pulau Palm Jumeirah, waktu itu kita menggunakan monorail dari daratan. Dari dalam monorail gw baru sadar kalo bagian pulau yang menyerupai pelepah itu merupakan deretan villa-villa mewah. Konon katanya David Beckham dan Shahrukh Khan juga beli villa di situ. Di dalam kompleks hotel seluas 46 hektar itu ada atraksi lainnya seperti wahana air Aquaventure, Atlantis Dive Centre, Marine Animal Adventure, dan The Lost Chambers Aquarium. Di bawah hotel Atlantis ini adalah area shopping arcade dimana gw nemu mesin ATM emas disitu! Ckckckck....

Dubai Mall & Dubai Fountain
Gemerlapnya eksterior Dubai Mall di malam hari

Kiri: Dubai Aquarium and Under Water Zoo
Kanan: Dubai Mall Waterfall

Dubai Mall dan Dubai Fountain ini letaknya bersebelahan dan tergabung dalam satu area juga dengan Burj Khalifa. Area ini dulu sempat dinamai Downtown Burj Dubai, tapi sekarang dikenal dengan nama Downtown Dubai. Sebenernya di hari pertama kita udah ke sini juga sih, tapi dalam penulisan di blog ini gw gabung sekalian di hari ke tiga. Dubai Mall adalah mall terbesar nggak hanya di Dubai aja tapi juga merupakan yang terbesar di dunia, dan menaungi lebih dari 1.200 toko di dalamnya. Dua kali ke sana aja tetep gw nggak khatam menjelajah semua bagiannya. Waktu hari pertama kesitu, kita naik Dubai Metro dan itu asli jauuuhhhh banget sampe gempor kita jalan kaki dari stasiun ke mallnya. Jadi nggak rekomen deh kalo naik Metro ke sini, lebih mending naik bus umum atau taksi. Waktu hari terakhir sih kita naik bus rombongan jadi aman deh kakinya.

Selain belanja dan window shopping, banyak spot yang bisa kita nikmati secara gratis. Diantaranya adalah Dubai Aquarium and Under Water Zoo yang lagi-lagi mendapat rekor dari Guiness World Records sebagai akuarium dengan panel akrilik terbesar. Kalo kita masuk ke underwater tunnelnya memang mesti bayar, tapi kalo cuma liat dari jendela akrilik yang seperti foto di atas sih gratis. Spot lainnya yang gratis dan bisa dijadiin tempat  berfoto yang gak boleh dilewatin adalah Dubai Mall Waterfall. Air terjun buatan dengan bentuk silinder ini diameternya 30 meter, dan tingginya 24 meter atau sepadan dengan empat lantai dari Dubai Mall.



Dubai Fountain merupakan air mancur 'menari' terbesar di dunia yang berada di danau buatan seluas 12 Hektar

Nggak lama setelah keluar dari Dubai Mall, lampu-lampu di sekitar mall satu persatu padam. Itu tandanya adalah sebentar lagi pertunjukan Dubai Fountain dimulai. Sebuah pertunjukan yang luar biasa dari air mancur yang menari sesuai dengan alunan musik itu. Selain koreografi gerakan air mancur yang mengikuti irama lagu, permainan 6.600 lampu dan 25 coloured projector menambah dramatis saat menyaksikannya di malam hari. Pas kita ke sana, lagu yang diputer adalah Time to Say Goodbye-nya Sarah Brightman & Andrea Bocelli. Kayanya lagu itu memang jadi pertanda perpisahan dengan kota Dubai karena saat itu adalah momen-momen terakhir kita di sana.

Burj Khalifa
Gedung tertinggi di dunia ini adalah centerpiece dari Dubai Downtown

Dan inilah pemandangan yang paling spektakuler saat berkunjung di Dubai. Apalagi kalau bukan gedung tertinggi di dunia: Burj Khalifa. Karena saking tingginya, kalau mau foto dengan latar belakang gedung ini emang harus dari lokasi yang agak jauh. Dari tepi danau buatan tempat Dubai Fountain berada juga bisa sih, tapi karena lokasinya masih relatif deket jadi mesti ngambil dari angle yang agak rendah. Oh iya, kalo bisa sih sempetin foto disini saat malam hari dan juga pas siang hari atau saat masih ada Matahari karena keduanya punya impact visual yang berbeda.

So, till then Dubai.. See ya again, and thanks for the amazing experiences!!!

You Might Also Like

1 comments

  1. wahhh keren mas postingannya, kebayang Indonesia punya Dubai Metro, gurunya eksotik bgt..bahagianya bisa ke sana #mimpi

    ReplyDelete

Like Me on Facebook

Pinterest Board

Subscribe