Day Trip ke Cirebon & Kuningan

Wednesday, March 05, 2014

Kota Cirebon belakangan ini memang jadi tujuan wisata yang cukup seksi dan lumayan diminati terutama buat mereka yang berdomisili di Jakarta. Waktu tempuh dengan naik kereta yang cuma sekitar tiga jam aja memungkinkan warga ibukota memiliki alternatif buat weekend-an selain lagi lagi ke Bandung, Bogor, atau Puncak. Terus, ada apa sih yang menarik dari Kota Cirebon ini?

Daya tarik wisata di Cirebon yang utama sebetulnya adalah pada keratonnya. Kota ini memiliki dua keraton yaitu keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan. Kalau bukan keraton, pasti orang kesini untuk wisata kuliner dan ditutup dengan belanja batik. Tapi tujuan utama kita saat itu sebetulnya bukan ke kota Cirebon melainkan ke Museum Perundingan Linggarjati yang ada di kota Kuningan. Penasaran sih pengen liat keratonnya juga, tapi kalau dari segi waktu nggak memungkinkan karena tripnya cuma sehari nggak pake nginep.



Trip ini memang bukan gw sendiri yang research dan ngatur jadwalnya, jadi udah tinggal ngikut dan bawa badan doang. Tapi tetep lah akan gw share sedikit info yang bakal berguna kalo lo mau arrange trip ke cirebon. Kalau berangkat dari Jakarta, selain lo bisa naik kereta Cirebon Express yang gw naikin kemaren, bisa juga naik kereta dengan tujuan kota lainnya yang memang ngelewatin kota Cirebon. Pilihannya banyak banget malah, yaitu:
  • KA Purwojaya
  • Argo Muria
  • Argo Dwipangga
  • Argo Jati
  • Argo Bromo Anggrek
  • Argo Sindoro
  • Bangunkarta
  • Gajayana
  • Argo Lawu
  • Sembrani
  • Taksaka
Kereta yang gw sebutin ini masing-masing punya jadwal keberangkatan, waktu tempuh, dan tentunya harga tarif karcis yang berlainan pula. Buat mastiin jadwal dan harga silahkan klik Situs Resmi PT.KAIWaktu itu kita naik CirEx (Cirebon Express) yang jam 6 pagi dari stasiun gambir dan nyampe di stasiun Cirebon jam 9an pagi. Oh iya, waktu itu kita salah beli tiket kelas Bisnis padahal maunya yang kelas Eksekutif. Sebagai orang yang dulu pas kuliah lumayan sering pulang kampung ke Semarang naik kereta, gw ngebayanginnya kelas Bisnis itu nggak bagus. Ternyata sekarang udah beda, kelas Bisnispun nyaman kok, ACnya juga dingin, cuma kekurangannya tempat duduknya aja gak bisa direbahin alias nggak reclining seat.

Sarapan Empal Gentong

Sesampainya di Cirebon, cuaca waktu itu terik banget untuk ukuran masih jam 9 pagi dan kita semua jadi kelaperan karena saking teriknya. Lebai dink, emang karena belum pada sarapan aja sebenernya… Hehehe… Langsung deh naik mobil sewaan kita cus, cabut ke tempat sarapan kita yaitu untuk nyobain makanan khas Cirebon yang namanya Empal Gentong. Mungkin di Kota Cirebon ada banyak tersebar rumah makan yang jual Empal Gentong, tapi karena ini disesuaikan dengan arah perjalanan kita yang menuju ke Kota Kuningan, kita dibawa ke rumah makan Empal Gentong Hj. Dian. Rumah makannya cukup gede dan tempat parkirnya juga luas kok. Jadi kalo mau berombongan, bahkan nyewa bus juga bisa parkir dengan leluasa disini.


Jujur baru kali itu gw nyobain yang namanya Empal Gentong dan gw cukup surprised dengan wujudnya. Kirain Empal itu daging sapi yang diiris tipis dan dibumbu dengan cita rasa manis kayak di saung Sunda kitu…. Ternyata ini makanan berkuah semacam gulai sapi tapi encer dan nggak terlalu pekat, plus dimasaknya di dalam Gentong alias periuk. Makanya ini makanan dinamain Empal Gentong. Hmmm… Lumayan lah rasanya, tapi gw nggak akan memfavoritkan makanan ini sih. Mungkin karena rasa bumbunya terlalu tipis di lidah. Gw suka tuh makanan yang kenceng aroma dan bumbunya. Jadi kalo Gulai ya menurut gw enakan yang santennya kental gitu. Hehehe… Tapi ini pendapat subyektif lho….

Menuju Kota Kuningan

Selepas sarapan, kita langsung menuju ke Linggarjati, Kuningan yang berjarak kurang lebih satu jam aja dari Cirebon. Linggarjati ini letaknya di kaki Gunung Ciremai jadi memang jalan ke sana agak berbukit. Nah, di tengah perjalanan tiba-tiba kita sampai di sebuah wilayah yang cukup rimbun pepohonannya dan di kiri jalan banyak sekali monyet-monyet yang berkeliaran. Tentu nggak mau melewatkan momen ini dong, sempatlah kita turun sebentar dari mobil untuk ngeliat monyet-monyet ini dari dekat. Ternyata daerah itu memang sebuah tempat wisata yang dinamakan Plangon. Kalau dari sejarah yang gw baca dari googling, Plangon ini memang dulunya adalah hutan tempat pangeran keraton Cirebon untuk mencari ketenangan yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah-masalah yang ada. Mungkin semacam tempat merenung sambil weekend getaway gitu kali ya kalo anak sekarang… Hehehe….


Walaupun monyet-monyet di sini jinak tapi tetep harus waspada ya. Tapi yang paling perlu diwaspadai adalah tourist scam-nya dimana ada ibu-ibu penjual buah dan kacang untuk makanan monyet. Memang monyet tentu akan mendekat kalau ada makanan di dekat kita, tapi cara menjual makanan monyet ini agak curang dan sedikit memaksa yaitu penjual tersebut tiba-tiba saja menyebar makanan yang dijualnya lalu langsung meminta uangnya ke kita. Jadi harus agak tegas ya dengan mereka ini, kalau kita memang nggak berminat ngasi makan ke monyet tersebut, jangan diladeni. Kita waktu cuma di parkiran aja sih, nggak masuk ke tempat wisatanya jadi nggak tau di dalem kaya apa.

Museum Perundingan Linggarjati

Akhirnya nyampe juga kita ke tujuan utama dari trip ini yaitu di Museum Perundingan Linggarjati. Karena kita kesana memang di akhir pekan, jadi kondisinya cukup rame. Kebanyakan pengunjungnya sih gw liat adalah keluarga yang masih punya anak-anak kecil. Mungkin biar sambil belajar sejarah juga ya. Museum ini halamannya super duper luas, dengan pohon-pohon besar dan rindang. Kalau bangunannya sendiri bentuknya sangat khas rumah peninggalan masa kolonial Belanda dan masih terjaga dengan baik.

Yang bikin kita penasaran selama ini dengan Linggarjati sebenernya adalah apa yang membuat sebuah perundingan harus banget diadain di tempat yang jauh dan terpencil di kaki gunung ini. Dan, dengan penjelasan dari tour guide kita waktu itu, jadi bangunan yang sekarang jadi museum ini dulunya adalah sebuah Hotel atau Villa gitu. Jadi delegasi dari Indonesia dan dari Belanda sama-sama menginap disini dan kemudian melakukan perundingan di area 'Hall' hotel itu. Hmmm…  Jadi gitu toh, kaya orang sekarang aja ya pergi ke luar kota untuk menghadiri meeting ataupun conference.


Disini gw gak perlu jelasin lah ya sejarah kenapa ada perundingan ini dan apa hasilnya karena pasti di buku sejarah ataupun dengan googling banyak banget sumbernya. Hehehe… Yang jelas, di dalam museum ini ada banyak foto-foto saat perundingan itu berlangsung, ada diorama juga yang bisa menggambarkan suasana saat itu, bahkan furnitur yang dipake untuk perundinganpun (baik replika maupun asli) masih diletakkan sesuai dengan layout aslinya. Yang menurut gw serem adalah kamar tidur-nya sih, dengan furnitur yang jadul itu suasananya seperti rumah sakit korban perang dunia. ;D

 
Meja Perundingan

Ada Yang Berani Nyoba Tidur Disini? Semalemmm Aja… 


Oiya,  disini ada beberapa spot menarik lah yang bisa dipake buat yang mau colongan foto pre-wedding. Kaya yang diatas ini…. Hehehe….

Belanja Oleh-oleh di Teh Diah


Setelah berkeliling di museum Linggarjati, kita langsung mengarah kembali ke kota Cirebon. Eits, tapi kayanya kurang sesuatu deh kalo pulang dengan tangan kosong. Mampirlah dulu kita untuk borong di Pusat Oleh-oleh Khas Kuningan, Teh Diah yang memang lokasinya kelewatan di arah balik ke Cirebon. Segala macem kripik dan kerupuk, opak, rengginang, sampe terasi yang jadi oleh-oleh khas Cirebon juga ada disini. Bahkan disini ada juga permen-permen jadul kaya Davos, nostalgic banget ya. Tempatnya cukup besar, dan parkirnya pun luas. Memang sudah disiapkan untuk melayani rombongan besar. Buat yang nggak bawa duit cash jangan kawatir, disini juga nerima pembayaran pake kartu debit & kredit.




Makan Sore di Nasi Jamblang Ibu Nur

Hari sudah menjelang sore, dan beberapa jam lagi saatnya kita naik kereta untuk pulang ke Jakarta. Tapi, tanpa disadari kita semua belum makan siang dan dengan kondisi yang ekstra laper, ini pas banget untuk tujuan terakhir kita yaitu untuk makan Nasi Jamblang. Tempat yang kita datengin ini memang salah satu tempat wisata kuliner yang populer di Cirebon. Namanya adalah Nasi Jamblang Ibu Nur.

Nasi Jamblang sendiri sebetulnya adalah semacam nasi rames. Tapi yang menjadi ciri khas adalah daun Jati yang digunakan sebagai pembungkus ataupun alas dari nasi. Untuk lauknya, silahkan pusing memilih diantara 40 macam makanan. Beberapa diantaranya adalah Cumi masak hitam, beberapa jenis pepes, ayam goreng, jeroan, dan aneka gorengan seperti tempe dan perkedel jagung. Udah gitu, harganya itu lhooo… Bersahabat banget di kantong! Well, karena kebiasaan tinggal di Jakarta, ya gw surprised sih dengan harga makanan disitu. Walaupun lauknya bebas ngambil sendiri, jangan takut kebablasan alias over budget. Karena disini dipasang list harga masing-masing item menu yang dijual disana. Rata-rata seorang spend 12ribu sampe 15ribu, itu udah pake tiga sampai empat lauk! Recommended banget lah ini tempat: mureh, enak, kenyangg…..



Dengan kondisi kekenyangan plus ngantuk, komplit deh udah perjalanan pulang kita ke Jakarta tinggal tidur nyenyak di kereta. So, do you think Cirebon is sexy enough to be your next trip destination?


Direktori
------------
Empal Gentong Hj. Dian
Jalan Raya Ir. H. Juanda No. 84 (Tengahtani), Cirebon

Pusat Oleh-oleh Khas Kuningan, The Diah
Jalan Raya Cilimus Bojong Kuningan
Telepon: (0232) 614188/ 615188

Nasi Jamblang Ibu Nur
Jalan Cangkring II No. 34 Cirebon
Twitter: @NasJamIbuNur

You Might Also Like

0 comments

Like Me on Facebook

Pinterest Board

Subscribe