Jalan-jalan Cari Makan di Penang: Hari ke-3

Saturday, May 10, 2014

Hari terakhir trip ke Penang ini bener-bener gw fokusin untuk jalan-jalan di seputaran kota lama Georgetown aja. Selain karena sisa waktu kita yang emang udah tinggal dikit, adanya gelar UNESCO World Heritage City yang disandang oleh kota ini bikin kita penasaran untuk menyibak lebih dalam pesona historikalnya.

Sarapan Dim Sum

Demi efisiensi waktu, sampe sarapan aja kita gak mau yang jauh-jauh. Restoran yang kita sambangi pagi itu letaknya cuma beda dua nomer dari hotel kita. Sebenernya udah penasaran dari hari sebelumnya sih kok restoran ini rame banget di jam sarapan, akhirnya kita cobain juga deh. Restoran ini sesuai namanya: Leong Kee Tim Sum Restaurant, memang menyajikan beragam sekali menu Dim Sum. Eits, tapi tunggu dulu, nggak semuanya halal. Kalau kamu tipe orang yang nggak berani makan di tempat yang menyajikan juga makanan non-halal, kayaknya restoran ini nggak cocok buat kamu. Tapi kalo gw, asal yang gw makan gw pilih-pilih, gw masih oke.

Photo Courtessy of http://chowhound.chow.com
Dim Sum yang masih bisa gw kategorikan 'halal'

Waktu kita order, kita udah bilang kalo gak mau pesen yang mengandung pork, untungnya pelayannya waktu itu baik banget jadi dia bener-bener menyeleksi Dim Sum buat kita yang isinya Ikan, Udang, atau Ayam. Dari segitu banyak pilihan Dim Sum di atas trolley pemanas yang bisa diseret sana-sini ke setiap meja, paling cuma ada 3 sampe 4 menu yang no-pork. Dan menu yang gw dapet waktu itu ada Chicken Feet, Baso Ikan, dan Chee Cheong Fun Udang. Rasanya emang enak bangettt.... Gak heran deh kalo ini restoran rame. Mungkin yang non-halal-nya lebih enak lagi kali ya... Hahaha

Leong Kee Tim Sum Restaurant
61 Kimberley Street, Georgetown Penang 10100
Telepon: +6016-4550386
Jam buka: Dari jam 6.00-jam makan siang

Peranakan Museum


Kiri: Pintu masuk utama Museum Peranakan
Kanan: Inner-Court atau lahan terbuka di tengah rumah merupakan salah satu ciri khas arsitektur Tiongkok

Penang memang terkenal dengan kebudayaan Peranakan-nya. Dalam hal ini yang dimaksud Peranakan adalah akulturasi antara budaya Melayu yang dimiliki suku lokal dengan budaya Tionghoa yang dibawa oleh suku pendatang. Dalam komunitas peranakan, yang cowo umumnya disebut Baba, sementara yang cewe disebut Nyonya. Sebagai pendatang dari negeri Tiongkok, komunitas ini tetap memegang tradisi nenek moyang mereka. Tapi uniknya, mereka juga mengadopsi cara hidup dari orang lokal (Melayu) serta kemudian mereka juga mendapat pengaruh lifestyle dari orang-orang kolonial Inggris yang waktu itu sedang menduduki semenanjung Malaya. Latar belakang budaya yang beragam tersebut melahirkan sebuah kebudayaan yang sangat kaya, nggak cuma bisa kita liat dari barang-barangnya tapi juga makanan dan bahasa.

Suasana di dalam Straits Chinese Jewellery Museum
Kiri: Koleksi perhiasan pada rambut/ sanggul
Kanan: Koleksi perhiasan Nyonya peranakan

Nah, di Penang ada satu museum dimana kita bisa ngeliat jejak kebudayaan Peranakan dari masa lalu secara lengkap yaitu di Penang Peranakan Mansion. Tempat ini sebenernya adalah sebuah rumah punya pasangan Baba-Nyonya yang kaya banget di jamannya. Jadi disini kita akan menjumpai semua barang-barang antik yang dulunya memang dipake sehari-hari sama mereka. Sayangnya waktu kita kesana museum ini lagi dipake syuting jadi kita cuma sempet masuk sebentar pas syutingnya lagi break.  Sebagai gantinya, kita berkunjung ke museum perhiasan Straits Chinese Jewellery Museum yang memang masih satu kompleks dengan Penang Peranakan Mansion. Disini, sesuai dengan namanya, berisi koleksi perhiasan dari Nyonya-Nyonya Peranakan. Mulai dari asesoris rambut, gelang, kalung, anting, cincin, bros, dll. Selain perhiasan, ada juga koleksi piring & alat makan keramik, dan yang paling banyak menyita perhatian pengunjung adalah koleksi Batik Peranakan dan Kebaya Nyonya.
Area dapur di Museum Peranakan  
Kiri: Penang Ais Chendul, Kanan: Penang Ais Kacang 

Sebagaimana umumnya rumah, walaupun sekarang ini dijadiin museum tapi tetep masih ada area dapur. Dan area dapur di museum peranakan ini dibikin jadi cafe gitu. Biar perut masih kenyang, kita tentu nggak ngelewatin kesempatan untuk nyobain sesuatu disini. Ah, ada Penang Ais Chendul dan Penang Ais Kacang! Sambil nunggu es kita dibikin, gw ngeliat detail barang-barang dapur yang ada disitu. Hmmm.... Alat-alat dapur jadulnya gak beda sama yang ada di Indonesia. Bahkan ada rantang dan cangkir kaleng yang motifnya loreng-loreng itu lho... Hahaha

Penang Peranakan Mansion
& Straits Chinese Jewellery Museum
29 Church Street, 10200 Penang, Malaysia
Telepon: +604-2642929
Jam Buka: Setiap Hari, Jam 9.30-17.00
www.pinangperanakanmansion.com.my

Bangunan Kolonial di Seputar Padang Kota Lama

Penang City Hall

Setelah puas ngeliat peninggalan kebudayaan Peranakan, kita lanjut ke daerah Padang Kota Lama. Ini adalah lapangan alias alun-alun gitu, dimana di sekitarnya ada banyak bangunan peninggalan kolonial Inggris yang sampe sekarang masih terawat dan beberapa juga masih dipake untuk kantor pemerintahan. Dengan letak yang saling bersebelahan, di bagian sisi Barat alun-alun ada bangunan Penang City Hall dan Penang Town Hall yang arsitekturnya cukup menarik untuk diamati. Ciri khas dari Penang Town Hall adalah cat-nya yang berwarna kuning bergaya Victorian, sementara Penang Town Hall warnanya putih dengan gaya arsitektur Edwardian Baroque. Sayang waktu itu Penang Town Hall-nya lagi di renovasi, jadi ketutup sama pagar seng dan juga ada banyak tiang-tiang besi jadi gak cakep deh di fotonya.

Kiri: Penang City Hall, Kanan: Jubilee Clock Tower
Benteng Fort Cornwallis

Selanjutnya kalo di sebelah Timur alun-alun, ada sebuah benteng dengan denah berbentuk bintang yang juga menjadi salah satu landmark Penang yaitu Fort Cornwallis. Benteng ini dibangun di akhir tahun 1700-an dan nama benteng ini diambil dari seorang bernama Charles Cornwallis, Gubernur Jenderal Inggris yang berkuasa di Bengal, India pada abad ke-18. Walaupun benteng umumnya dibangun sebagai bentuk usaha pertahanan militer, tapi Fort Cornwallis nggak pernah terlibat dalam suatu peperangan apapun. Sayangnya kita sih waktu itu nggak masuk ke dalem, soalnya Penang waktu itu cuacanya lagi terik banget. Itu aja foto-foto di depannya udah bikin sakit kepala saking panasnya matahari.

Nggak jauh dari Fort Cornwallis, tepatnya di sudut sebelah Tenggara benteng, ada menara jam dengan arsitektur yang juga unik. Atapnya sepintas kaya kubah masjid, tapi itu sebenernya mengambil gaya Moorish (Hindu-Gothic) dari India. Menara ini dibangun di tahun 1897 untuk memperingati ulang tahun ke-60 Ratu Inggris saat itu yaitu Queen Victoria. Dan jumlah umur sang Ratu ini disimbolkan dengan ketinggian total dari menara ini yaitu 60 kaki.

Khoo Kongsi


Megahnya rumah marga Khoo Kongsi yang penuh dengan detail ukiran

Bisa dibilang ini adalah lokasi wisata terakhir dari trip kita di Penang. Namanya lokasi terakhir, udah di-setting sebagai "gong" dari keseluruhan trip dong. Kenapa gitu? Alasannya adalah karena arsitektur dari Khoo Kongsi ini memang indah luar biasa. Leong San Tong Khoo Kongsi adalah nama lengkap dari kelenteng, atau lebih tepatnya 'rumah marga' ini yang dimiliki oleh salah satu klan Tionghoa di Malaysia yang paling terkenal karena garis keturunannya yang luas, yaitu marga Khoo. Mereka adalah generasi imigran Tionghoa pertama dari provinsi Hokkien yang sampe di Penang, dan kemudian pada tahun 1890-an mereka mulai bangun rumah marga termegah di Penang ini. 

Kiri: Jalan Masuk ke Khoo Kongsi yang tersembunyi
Kanan: Bangsal pertunjukan Chinese Opera

Khoo Kongsi letaknya agak tersembunyi di dalam 'gang' yang ada di jalan Lebuhraya Cannon. Kenapa gw kasi tanda kutip di kata gang? Karena memang nggak akan ada orang yang ngira kalo jalan masuknya itu sebuah gang. Bisa dibilang itu cuma lorong di antara deretan rumah-rumah toko tua khas China, udah gitu nggak ada yang nempatin lagi. Di rumah toko yang paling ujung-lah ternyata tempat untuk beli tiket masuk ke Khoo Kongsi seharga RM10, plus dikasi kartu pos bergambar bangunan rumah marga itu. Begitu masuk lebih dalam lagi, barulah keliatan pekarangan kompleks Khoo Kongsi yang luas dengan beberapa bangunan lainnya disana. Salah satu bangunan yang bentuknya kaya pendopo gitu, ternyata itu adalah bangsal untuk pertunjukan chines opera. Tapi tetep, rumah utamanya itu sih yang megah dan kerennnn bangettt…. Ukir-ukirannya dari atap sampe pilar-pilar semua sangat detail dan rumit, jadi agak sulit dipercaya kalo semuanya itu handmade. Nggak heran sih kalo tempat ini pernah dipake buat syuting film Anna and the King.


Mural di bagian dalam Khoo Kongsi
Kiri: Foto bersama beberapa generasi keturunan marga Khoo
Kanan: Museum di basement Khoo Kongsi

Kalo diperhatiin lagi, semua detail ukiran, relief, dan mural yang tersebar di Khoo Kongsi ini emang diambil dari legenda-legenda dan hewan mitologi Tiongkok. Mulai dari Kylin, Naga Laut Timur, Harimau Barat, patung-patung Laughing Monk dan Crying Monk, serta masih banyak lagi legenda lainnya. Di bagian atap juga ada ukiran yang rumit tapi cantik banget, yang juga menggambarkan hewan-hewan seperti Naga, Merak, dan lain-lain. Di bawah (basement) bangunan utama ini ada sebuah ruangan yang difungsikan sebagai museum. Jadi ada informasi mengenai rumah marga Khoo Kongsi ini sendiri, maupun silsilah dan juga sejarah dari klan marga Khoo.

Leong San Tong Khoo Kongsi
18, Cannon Square, 10200 Penang, Malaysia
Telepon: +604-261 4609
Jam Buka: Setiap Hari, Jam 9.00-17.00
Harga Tiket: RM 10, Anak-anak (dibawah 12 tahun): Gratis
www.khookongsi.com.my

Makan Tepi Pantai di Teluk Bayan

Photo Courtessy of http://samlee86.net

Sebelum ke Airport, kita makan untuk terakhir kalinya di Penang. Dan tempat makan kali ini adalah hasil rekomendasi dari Bapak Supir. Tempatnya ada di pinggir pantai dalam perjalanan ke Penang International Airport. Pemandangannya juga lumayan asik, karena pantainya cukup bersih dan di seberang pantai ini ada satu pulau kecil dengan bentuk memanjang yang bernama Pulau Jerejak. Pulau Jerejak sendiri menurut cerita si Bapak Supir dulunya di jaman kolonial Inggris difungsikan sebagai lokasi dibangunnya penjara dan juga sanatorium. Tapi sekarang lokasi bekas penjara dan sanatorium itu dijadiin spa resort. Whaaaatt??? Emang nggak horor ya...? Gw yakin kalo di Indonesia pasti ini pulau udah jadi lokasi uji nyali... Hahaha....

 Photo Courtessy of http://cokeworldcitizen.blogspot.com


 Photo Courtessy of http://yonglimpage.blogspot.com

Kembali lagi soal tempat makan, di sini memang ada beberapa warung-warung makan yang jual makanan seafood. Tapi rata-rata bukanya sih waktu menjelang malam. Karena waktu itu kita ke sana masih siang menjelang sore, jadi nggak semua warung udah buka. Warung yang kita datengin waktu itu adalah Anggerik Biru yang hidangannya justru makanan prasmanan dengan menu Melayu. But the food was good though... Sambil menikmati sepoi-sepoi angin pantai dan ditemani segelas Ais Sirap, begitulah orang Malaysia menyebut Es Sirup, experience ini terhitung seru juga. Lokasi tempat makan ini juga lumayan gampang dicari karena letaknya di daerah Bayan Indah yang nggak jauh dari Queensbay Mall.

Anggerik Biru Catering (Office)
38, Lorong Mahsuri 10
11950 Bayan Baru, Penang
Telepon: +604 638 3022
HP: +6016 444 7002


Anggerik Biru Catering (Warung)
1, Jalan Bayan Bay,
11900 Bayan Lepas, Penang
Jam Buka : Senin-Sabtu, 10.30-15.30


Ciao, Penang!


Oke, sampe juga di Penang International Airport dan ini berarti saatnya berpisah dengan pulau Penang. Tapi liburan gw belum berakhir lho. Hehehe... Di tulisan bagian pertama gw sempet ngasi hint kan kalo Penang ini lokasinya deket banget dan gampang banget untuk diakses dari sebuah kota di pulau Sumatera. Yakk betul, setelah liburan di Penang gw lanjut solo traveling ke kota Medan. Nantikan postingan selanjutnya ya... Stay tune!!!

You Might Also Like

0 comments

Like Me on Facebook

Pinterest Board

Subscribe