Jalan-jalan Cari Makan di Penang: Hari ke-2

Thursday, May 01, 2014

Hari ke dua ini bisa dibilang adalah satu-satunya hari yang paling full di trip ke Penang kemarin. Karena itulah kita nyusun itinerary hari ini untuk lokasi wisata yang relatif jauh. Dimulai dari mengunjungi kuil Buddha yang paling besar di sana, dan diakhiri dengan makan malam di pusatnya jajanan kaki lima.

Mengingat lokasi wisata yang nggak saling berdekatan dan bisa dibilang semuanya relatif jauh dari pusat kota Georgetown, gw memang menyarankan untuk sewa mobil di hari ke dua ini. Kita udah booking supir plus mobil yang kemaren nganter kita dari airport ke hotel, dengan deal harga 4 jam pertama diitung RM30 per jam dan selanjutnya diitung RM25 per jam. Total sih kita sewa 11 jam dan itu berarti duit yang kita keluarin sejumlah RM 295. Memang agak mahal ya tarifnya, tapi karena kita pergi berempat jadi lumayan ringan karena bisa sharing. Buat kamu yang pengen pergi solo traveling, atau buat para budget traveler, selalu ada pilihan yang jauh lebih murah yaitu naik bus Rapid Penang. Untuk trayek dan tarifnya silakan check di websitenya yaitu www.rapidpg.com.my. Tapi yang perlu diingat, bus ini armadanya nggak banyak, jadi mungkin nunggunya agak lama. Jam 9 pagi, si bapak supir dengan on-time-nya udah jemput kita di lobby hotel. Lokasi pertama? Sarapan dulu dong

Nasi Kandar Line Clear

Suasana Warung Nasi Kandar Line Clear di Jam Sarapan

Buat yang udah pernah baca postingan-postingan gw sebelumnya, pasti udah tau kalo gw itu sukaaa banget makanan yang namanya Nasi Kandar. Pertama kali nemu dan nyobain makanan ini adalah waktu traveling ke Kuala Lumpur. Tapi sebenernya, nasi kandar ini asalnya justru dari Penang. Dan karena udah jauh-jauh sampe disini, tentunya gw pengen makan di tempat yang paling original dong. Inilah Line Clear, yang konon adalah salah satu warung Nasi Kandar tertua di Penang. So, bisa dibilang petualangan kuliner kamu di Penang nggak akan lengkap kalo nggak nyicipin makanan di warung yang buka 24 jam ini. Lokasinya ada di jalan Penang, dan emang agak nyempil di sebuah gang gitu. Tapi nggak akan susah nemuin tempat ini, soalnya pagi-pagi aja udah rame dengan orang yang mau sarapan. Termasuk kita, hehehe.... Sayangnya waktu kita dateng, makanan yang mateng belum komplit. Tapi takpe lah, asal ada ayam goreng dan beragam kuah-kuah kari yang dituang di atas nasi hangat itu sudah lebih dari cukup!

 Nasi Kandar Dengan Ayam Goreng, Telur Masin, Disiram Kuah Kicap Madu

 
Alamat
177, Jalan Penang, Georgetown. Penang
Jam buka: 24 jam, dua minggu sekali tutup di hari Selasa

Kek Lok Si Temple



Setelah kenyang dengan sepiring nasi kandar yang porsinya super jumbo itu, kita langsung menuju daerah Air Itam untuk ngeliat Kek Lok Si temple. Ini adalah kompleks kuil Buddha yang paling besar dan paling touristy di Penang. Karena hari itu hari Minggu, jadi jalan menuju ke sana lumayan macet. Di tengah kemacetan kita udah ga sabar pengen segera sampe, karena di dalem mobil kita udah bisa liat dari jauh kemegahan kuil yang adanya di atas bukit ini.

Untuk masuk ke kompleks kuil ini awalnya gratis, tapi ada area-area tertentu di dalemnya yang mesti bayar juga. Karena kuil ini lokasinya ada di perbukitan, jadi dari awal masuk, dan dari satu bangunan ke bangunan lainnya emang mesti naik anak tangga yang lumayan banyak. Waktu tadi masih di pintu masuk, gw ngeliat ke atas ada dua bagian dari kuil ini yang pengen banget gw liat lebih deket, yaitu patung Dewi Kuan Im yang super gede, dan yang kedua adalah pagoda dengan 7 tingkat. Tapi saking luasnya kompleks ini dan banyaknya bangunan di situ, gw sempet bingung kemana lewatnya untuk sampe kesana. Udah nyasar kesana-kesini, akhirnya lebih dulu nemu jalan untuk menuju patung Dewi Kwan Im. Letaknya semakin naik ke atas bukit, dan kalo jalan kaki kayanya lumayan bikin cape ya. Untungnya ada incline lift untuk naik ke atas bukit dengan membayar RM6. Seru banget lho naik lift yang jalurnya miring sesuai dengan kontur bukit itu, dan karena dinding-dinding liftnya terbuat dari kaca, jadi bisa liat pemandangan pulau Penang.


 Inclined Lift Menuju Patung Dewi Kuan Im
Berpose di Depan Patung Dewi Kuan Im

Setelah puas foto-foto di depan patung raksasa Dewi Kwan Im yang terbuat dari perunggu itu, gw lanjut nyari jalan untuk menuju pagoda. Ternyata jalannya memang harus keluar masuk ruang-ruang sembahyang gitu. Nah, untuk menuju Pagoda ini, kita mesti bayar lagi. Gak mahal kok, cuma RM2 aja. Pagoda 7 tingkat ini memiliki bentuk fasad bangunan yang sangat unik yaitu perpaduan antara beberapa arsitektur tradisional yang kental dengan unsur Buddha: Tiongkok, Thailand, serta bentuk stupa khas Burma sebagai puncaknya. Tingginya sih emang 7 lantai aja ya kesannya nggak tinggi-tinggi banget, tapi begitu harus naik tangga yang melingkar dan sempit di dalam pagoda ini untuk nyampe di puncaknya ternyata lumayan bikin lutut gemeteran juga.... Hehehe... Setelah melewati lantai demi lantai yang masing-masing ada satu patung Buddha, akhirnya sampai juga di puncak pagoda. Dan kaki yang pegel dan nafas yang ngos-ngosan jadi gak berasa lagi setelah ngeliat pemandangan yang spektakuler itu. Seluruh area kompleks Kek Lok Si bisa keliatan jelas dari sini, dan tentunya pemandangan ke arah kota dari kejauhan.


 
Kiri: Pagoda 7 tingkat
Kanan: Selfie dari Lantai Paling Atas Pagoda


Alamat
Kampong Sungai Keluang, Air Itam. Penang
Jam Buka: 9 pagi - 6 sore

Penang Hill

Sebelum Naik Keretapi, Foto Dulu

Masih di seputar daerah Air Itam, ada lokasi wisata yang namanya Bukit Bendera atau kalau di kalangan turis lebih beken dengan sebutan Penang Hill. Kalau dari sejarahnya, bukit ini dinamakan Bukit Bendera karena dulu disini ada bendera yang dikibarkan di tiang bendera rumah Gubernur saat era kolonial Inggris. Selain menawarkan hawa sejuk dan pemandangan yang indah, daya tarik utama di Penang Hill ini yaitu adanya kereta yang akan membawa kita untuk menuju puncak bukit yang tingginya 830 meter dari muka laut ini. Dengan keterbatasan teknologi di jaman kolonial itu, memang masih susah untuk bikin jalan dengan kondisi geografis perbukitan semacam itu. Maka diputuskanlah oleh pemerintah kolonial untuk ngebangun jalur kereta demi mempermudah koneksi ke atas bukit. Kereta yang ditarik dengan menggunakan kabel ini sekarang udah sangat moderen dan canggih, dibandingkan dengan saat pertama dioperasikan yang bahkan masih terbuat dari kayu.


Antrian Untuk Naik Kereta
Kiri: Suasana Di Dalam Kereta, Kanan: Jalur Rel Kereta yang Menanjak

Untuk naik kereta biayanya RM30 pergi-pulang, berangkatnya dari stasiun ‘Keretapi Bukit Bendera’ yang ada di kaki bukit. Dari stasiun ini, ngeliat jalur rel-nya aja sontak memacu adrenalin. Gimana enggak, udah kondisi bukitnya nanjak banget, kabut bikin kita nggak bisa ngeliat puncak bukit. Jadi seakan-akan kalo naik kereta ini kita akan hilang masuk ke balik awan gitu... Hehe... Karena hari itu hari Minggu, dan menurut info pak supir saat itu adalah libur panjang untuk anak-anak sekolah, jadinya lumayan rame. Tapi untungnya nggak perlu antri terlalu lama sih, karena dengan kereta yang baru ini kapasitasnya 30 orang lebih banyak dari kereta yang dulu cuma muat 50 orang. Lantai gerbong kereta ini juga ternyata didesain berundak-undak sebagai solusi dari kontur bukit yang miring. Jadi walaupun nanjak, posisi badan kita nggak akan ikut miring. Saat kereta mulai bergerak, perut mendadak mules karena nggak nyangka kalo bakal ngebut. Gila, ngeri banget rasanya naik kereta yang jalur relnya miring tajem tapi ngebut kaya gitu. Sensasinya jelas akan berkali-kali lipat lebih ngeri kalo kita naik di gerbong paling depan atau paling belakang. Dari kaki bukit sampai puncak, hanya butuh waktu sekitar 5 menit aja!!!


Pemandangan dari Atas Bukit Bendera, Sayang Lagi Berkabut

Sesampainya di puncak bukit, kita sebenernya nggak tau ada hiburan apa lagi disana. Setelah jalan kaki keluar dari stasiun baru deh bisa ngeliat panorama pulau Penang dari sini. Ada sederetan viewfinder buat orang-orang ngeliat pemandangan lebih jelas. Sayangnya waktu itu cuaca udah mulai mendung jadinya juga agak percuma. Selain liat panorama, di atas bukit ini ada beberapa cafe, food court, museum burung hantu, taman botanikal, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kalo bener-bener mau menjelajah seluruh bagian puncak bukit ini nggak perlu capek jalan kaki. Ada fasilitas mobil golf buat keliling-keliling, tapi ya itu mesti bayar lagi. Karena kita nggak niat keliling, jadinya cuma foto-foto aja di pelataran depan food court dimana ada bekas gerbong keretapi bukit bendera yang dulu dioperasiin jaman kolonial alias masih versi kayu. Dan ini emang sengaja dipajang buat orang-orang foto di depannya.
Pelataran di Bukit Bendera

Kiri: Penjual Snack Kacang-kacangan
Kanan: Berfoto di Gerbong Kereta Tua Yang Dulu Dipake di Bukit Bendera

Perbadanan Bukit Bendera Pulau Pinang
Jalan Stesen Bukit Bendera
Air Itam 11500 Pulau Pinang

Pantai Batu Ferringhi

Suasana Pantai Batu Ferringhi yang Lagi Lengang

Kalau tadi udah ngeliat bukit, sekarang saatnya pergi main ke pantai. Karena wilayah Penang ini salah satunya terdiri dari pulau, so udah pasti ada tempat wisata berupa pantai. Nah, pantai yang paling terkenal di Penang ini namanya Batu Ferringhi dimana kita bisa melakukan kegiatan watersport seperti  misalnya Jet Ski, Banana Boat, dan Parasailing. Dari Bukit Bendera ke Batu Ferringhi kira-kira lamanya 45menit-an. Dan karena belom pada makan siang, di tengah perjalanan si bapak supir bawa kita ke sebuah tempat bernama “Medan Selera Tanjung Bunga” untuk makan Nasi Melayu. Pas banget nih, makan yang bercitarasa Chinese udah, India udah, sekarang giliran yang Melayu dong.

Istilah Medan Selera ini kalo di-Bahasa Indonesia-kan kurang lebih artinya ‘Pujasera’, sementara kalo Tanjung Bunga sendiri adalah nama daerah tempat si medan selera ini berada. Berhubung kita nyampe di sana udah lewat jam makan siang, jadi beberapa gerai udah pada tutup (atau pas lagi nggak jualan aja kali ya… hehehe). Cuma ada satu gerai yang buka waktu itu namanya kedai Atika Nasi Campur. Nasi Campur itu sendiri sepintas kaya nasi rames gitu lah. Lauknya ada macem-macem mulai dari ayam, ikan, sotong, dan masih banyak lagi lauk-pauk lainnya yang memang dimasak dengan "cite-rase" Melayu.

Photo courtessy: http://penangfoodie.blogspot.com/2012/12/cheap-good-nasi-melayu.html

Setelah makan, kita ngelanjutin perjalanan ke Batu Ferringhi. Sebenernya ya, Batu Ferringhi ini justru lebih diminati ketika mulai menjelang sunset sampe malem hari. Jadi katanya kalo malem disini ada pasar malem gitu yang jual suvenir-suvenir. Sayangnya berdasarkan itinerary, kita ngejadwalin ke Batu Ferringhi di saat siang menjelang sore hari jadi agak lengang pantainya. Kita pun awalnya cuma duduk-duduk di atas bebatuan yang ada di pinggir pantai. Tapi sewaktu ngeliat ada serombongan turis yang naik kapal wara-wiri di sebrang kita kok kayanya asik juga. Setelah nanya sama mas-mas anak pantai situ, dia kasi tau kalo tarif naik kapal itu (kalo gw nggak salah inget yaa) sekitar RM50. Karena udah oke dengan harganya, jadilah kita naik kapal menyusuri perairan dekat bibir pantai Batu Feringhi daripada cuma ngegosongin badan duduk-duduk di atas batu karang. Nggak banyak yang bisa diliat sih waktu naik kapal ini, rutenya juga nggak jauh. Paling cuma deretan hotel-hotel berbintang itu termasuk Hard Rock Hotel, dan titik paling jauh adalah di perkampungan nelayan, abis itu balik deh ke starting point kita tadi. Agak kurang seru sih ya… ;D Hahaha….


Perkampungan Nelayan di Batu Ferringhi

Lebuh Armenian & Heritage Walk
Suasana di Lebuh Armenian

 
Retro Ice Ball

Setelah panas-panasan di Pantai Batu Ferringhi, gw langsung kepikiran nyari sesuatu yang bisa ngedemin tenggorokan. Tiba-tiba gw keingetan kalo pernah browsing tentang jajanan jalanan di Penang, dan ada satu penjual bola es serut di lebuh Armenian yang emang cukup terkenal. Karena itu kita mesti segera balik ke Georgetown. Dan bener aja, pas kita nyampe di deket-deket gang Lebuh Armenian situ kita nanya dimana penjual es ini dan semua orang tau lokasi persisnya. Gw yakin pasti di masa kecil kalian pernah nyobain es serut semacam ini yang suka dijual sama abang-abang depan sekolahan... Hehehe.... Cuma di sini dibentuknya kerucut gitu. Well, apapun bentuknya, basically ini es serut yang dipadetin, trus disiram pake sirup. Sederhana sih, tapi di tengah panasnya Penang hari itu, berasanya segerrrrrr bangetttt. Trus kenapa mesti bela-belain dateng ke situ? Selain cuma bisa nikmatin es serut, Lebuh Armenian ini dan sekitarnya adalah area yang termasuk dalam Penang Heritage Walk. Jadi banyak bangunan lama yang cukup menarik buat difoto. Karena itu kalo mau explore lebih jauh daerah ini, kita mesti jalan kaki menyusuri gang-gang yang ada. Apalagi, di tembok-tembok bangunan lama itu ada hasil karya (street artpara seniman yang emang keren-keren banget.

Gurney Drive

Suasana Gurney Drive Menjelang Malam

Trip hari kedua waktu itu kita akhiri dengan makan malam (belom malem juga dink sebenernya… Makan Petang lah ;D ) di Gurney Drive. Yes, ini adalah daerah tujuan wisata yang tersohor banget buat nyari semua makananan kaki lima khas Penang. Gurney Drive sendiri adalah nama jalan dimana pusat jajanan ini berada, dan lokasinya ada di pinggir pantai. Kalau ke Penang, jangan sampai nggak kesini. Apalagi kalo waktu trip kamu sempit, tapi pengen nyobain segala macem makanan khas Penang, itu semua bisa dilakukan di satu tempat ini aja. 

Gerai Rojak Pasemboor

Beberapa Gerai di Section Non-Halal

Berdasarkan pengamatan gw waktu itu, pusat jajanan Gurney Drive ini dibagi jadi dua section. Dari pengunjung yang dateng, gw langsung bisa menerka kalo section yang pertama adalah section Halal. Karena rata-rata pengunjungnya orang Melayu dan yang cewe-cewe pada berhijab. Penjual makanannya pun begitu. Kalo nggak orang Melayu, ya orang India muslim. Nah, section yang satu lagi sepertinya untuk makanan non-Halal. Section ini bisa ditandai dari tulisan kedainya yang rata-rata pake tulisan China. Tapi disini justru lebih meriah dan beragam banget lho dari segi jenis makanan maupun dari segi crowd yang dateng. Lebih banyak turis bule juga yang makan disini. 

Walaupun kita baru nyadar belakangan kalo tempat itu dibagi dua section, tapi kebetulan kita emang duduk di bagian yang halal. Makanan yang kita pesen waktu itu ada Rojak Pasemboor, Sate Lembu (Sapi), dan cuma gw sendiri yang satu-satunya ngeluyur beli makan di section non-halal buat nyobain makanan yang namanya Chee Cheong Fun. Chee Cheong Fun itu pada dasarnya adalah rice noodle yang digulung. Di Penang versinya agak beda dengan yang lazimnya gw makan di resto Dim Sum. Kalo yang itu biasanya di dalemnya ada Udang-nya, tapi yang ini nggak ada apa-apanya alias kosong. Sausnya juga beda. Kalo di resto Dim Sum itu pake kecap asin, kalo disini pake kecap manis yang dicampur sama pasta udang (petis), trus ditaburin pake wijen yang disangrai. Jadi mudah-mudahan nggak ada kandungan yang bikin nggak halal ya… Hehehe….

Rojak Pasemboor

Kiri: Chee Cheong Fun
Kanan: Sate Lembu

Kalo lo nggak yakin untuk makan Chee Cheong Fun, mending cobain si Rojak Pasemboor deh. Kalo yang ini Insha'Allah halal karena emang stall-nya ada di section halal. Rojak Pasemboor agak sedikit berbeda dengan Rujak yang kita kenal disini karena dia bukan berisi buah-buahan, tapi campuran dari gorengan (semacam bakwan), tahu, kentang rebus, udang goreng (atau seafood lainnya seperti sotong dan kepiting), telur rebus, tauge, dan serutan timun, terus diatasnya disiram saus yang rasanya pedes manis dengan buliran kacang (nggak di-uleg). Rasanye? Sedaap Gilerrrrr….. ;D

---

Thank you udah baca postingan trip gw di Penang hari ke dua ini. Masih ada lagi bagian ketiga yang pastinya juga wajib untuk dibaca… Silahkan klik disini!

You Might Also Like

0 comments

Like Me on Facebook

Pinterest Board

Subscribe