Trip ke Medan Demi Nyobain Kereta Bandara: Part-2 (End)

Tuesday, December 23, 2014

Jalan Kesawan merupakan daerah Pecinan di Kota Medan

Puas mengabadikan Medan di waktu malam, keesokan harinya gw punya jadwal yang cukup padat untuk melihat-lihat objek wisata di kota Melayu Deli ini. Dan pengalaman yang nggak mungkin dilupakan adalah naik Becak Motor alias Bentor keliling kota demi berburu oleh-oleh!

Tantangan besar saat traveling sendirian adalah disiplin terhadap waktu serta taat dengan itinerary yang sudah disusun. Dengan banyaknya lokasi yang ingin dituju hari ini, maka alaram di handphone pun sudah disetel biar nggak kesiangan bangun. Tetapi jangankan kesiangan, alaram belum bunyi mata gw sudah membelalak lebar karena kebisingan di seberang hotel. Karena waktu itu lagi masa kampanye, sepertinya sedang ada kampanye caleg di Lapangan Merdeka pagi itu.

Menukar kupon sarapan dari D'Prima Hotel di Starbucks, Stasiun Medan

Bergegas mandi, terus sekalian check-out dan menitipkan koper di resepsionis hotel. Kupon sarapan ditukarkan di lantai 2 stasiun.  Bener-bener praktis dan efisien deh hotel ini, sarapannya di-provide sama Starbucks. Dengan harga menginap yang terbilang nggak mahal, masih dapet sarapan yang sepadan yaitu secangkir kopi hitam dan sepotong croissant. Selesai sarapan langsung menuju ke lokasi wisata pertama yaitu Tjong A Fie Mansion di Jalan Kesawan dengan berjalan kaki. Daerah Kesawan ini adalah daerah dimana dulu banyak pendatang orang-orang Tionghoa dari Malaka maupun Tiongkok menetap, sehingga sekarang daerah ini berkembang menjadi daerah Pecinan. Walaupun sekarang sudah banyak bangunan moderen seperti ruko, tapi kita masih bisa melihat beberapa sisa-sisa rumah ataupun bangunan kuno di sepanjang jalan ini.

Tjong A Fie Mansion

Pintu Gerbang Tjong A Fie Mansion

Tjong A Fie adalah seorang pedagang di Medan (dahulu kota ini dikenal dengan nama Deli) yang sangat sukses dan sangat berpengaruh pada jamannya sampai-sampai ia diangkat menjadi mayor. Ia berasal dari daerah Moyan, Tiongkok yang kemudian merantau ke Labuan Deli pada tahun 1880. Dengan segala kepiawaiannya, Tjong A Fie berhasil menjadi orang kepercayaan Sultan Deli dan mulai menangani beberapa urusan bisnis, denagan demikian ia memperoleh reputasi yang baik dan terkenal di seluruh Deli. Rasa hormatnya kepada Sultan Deli pada waktu itu, Ma'mun Al Rasyid, serta penduduk Islam di Medan, ia turut menyumbang sepertiga biaya pembangunan Masjid Raya Al-Mashun yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Nah, kediaman dari Tjong A Fie yang berusia lebih dari seabad ini sekarang dimanfaatkan sebagai museum dan dinyatakan sebagai bangunan cagar budaya nasional. Rumah ini memiliki keindahan arsitektur Cina kuno yang berpadu dengan arsitektur Eropa kolonial, serta unsur budaya lokal yaitu Melayu. Berpadunya ketiga unsur kebudayaan ini biasanya disebut dengan budaya Peranakan.


Jalan kaki dari hotel ke tempat ini nggak terlalu jauh kok, seperti yang dapat dilihat di peta di atas. Dan nilai plus-nya adalah kita bisa juga liat-liat bangunan tua lainnya di sepanjang jalan Kesawan. Salah satunya adalah restoran dan bakery Tip-Top yang sudah berdiri sejak tahun 1934. Setelah kira-kira berjalan kaki menyusuri Jalan Kesawan selama 10 menit, gw langsung bisa mengenali gerbang pintu masuk Tjong A Fie Mansion yang kental bergaya Tiongkok itu. Suasana masih sangat sepi pagi itu, bahkan saat mengisi buku tamu barulah gw tau kalo gw pengunjung pertama di hari itu... Hehehe...

Ruang Tamu untuk menerima kunjungan orang Tionghoa

Ruang Tamu untuk menerima kunjungan Sultan Deli
  
Kiri: Ruang Tamu untuk menerima kunjungan orang Belanda
Kanan: Ruang Terbuka yang disebut Sumur Surga

Di depan pintu masuk rumah ini ada loket untuk pembelian karcis seharga Rp. 35.000, dan harga tersebut sudah termasuk layanan seorang guide yang akan menjelaskan sejarah dari rumah Tjong A Fie ini berikut detail ruangan-ruangan yang ada di sana. Ruangan yang menyambut pengunjung ketika pertama kali masuk ke dalam bangunan ini adalah ruang tamu untuk masyarakat umum, dan dengan bentuk yang melebar, ini adalah ruang tamu paling besar yang ada di rumah ini. Ya, di rumah ini memang ruang tamunya nggak cuma satu, melainkan ada empat. Ruang tamu berikutnya terbagi menjadi tiga section yang lebih kecil. Yang tengah adalah ruang untuk menerima tamu Tionghoa, dengan furnitur yang memiliki detail ukiran khas Tiongkok dengan dominasi warna merah dan emas. Ruang yang kiri adalah ruang tamu Sultan Deli, dengan dominasi warna hijau dan kuning yang merupakan warna khas kesultanan Deli. Ruangan ini ditujukan untuk menerima Sultan yang memang rekan dekat Tjong A Fie semasa hidupnya. Ruang tamu terakhir adalah ruang untuk menerima orang Belanda. Berada di sisi sebelah kanan, dan tentu saja furniturnya bergaya Eropa lengkap dengan sebuah Grand Piano.

Sebagaimana arsitektur asli rumah Tiongkok, di bagian tengah rumah selalu ada area terbuka yang berfungsi untuk aliran udara masuk, serta digunakan untuk upacara atau sembahyang. Tjong A Fie sendiri menyebut area ini dengan nama Sumur Surga. Mungkin karena dari sini orang langsung dapat memandang langit yang biru. Dari tempat ini juga kita bisa melihat jendela-jendela berwarna hijau di lantai dua yang sangat khas arsitektur Melayu. Di kedua sisi Sumur Surga ini, ada tangga yang akan membawa kita ke lantai dua dimana terdapat Ballroom. Di situlah Tjong A Fie dahulu mengadakan pesta dansa. Langit-langit yang tinggi dengan detail dekorasi lukisan bunga dan kupu-kupu, serta chandelier yang bergaya Art Nuveau membuat keseluruhan ruangan tampak mewah dan megah meski sudah tampak sangat berumur. Selain Ballroom, di lantai dua juga ada ruang sembahyang, juga ada area dimana keturunan dari Tjong A Fie tinggal, namun tentu ruang-ruang ini tidak dapat dimasuki oleh pengunjung. Banyak sekali detail-detail di hunian ini yang sayang kalau tidak diabadikan melalui lensa kamera, karena itu gw memilih untuk memotret lebih lanjut nanti setelah guide selesai menerangkan semua ruang-ruang yang ada.







Langit-langit Ballroom dengan detail ornamen bunga dan kupu-kupu serta chandelier bergaya Art Nuveau

Saat itulah pengalaman yang tidak menyenangkan mulai terjadi. Ketika gw sudah nggak bersama guide, salah seorang keluarga Tjong A Fie yang masih tinggal di rumah itu menghampiri gw dengan wajah yang tidak terlalu bersahabat. Bapak itu bertanya gw dari mana, dan kenapa gw tidak didampingi guide. Gw pun menerangkan kalau guide sudah selesai menemani dan sekarang gw tinggal mau foto-foto saja. Bapak itu kemudian pergi menuju ke depan (loket). Tidak lama ada guide lain yang tanpa berbicara apa-apa datang mengawasi gw. Tentu gw jadi ngerasa nggak nyaman dong dengan perlakuan ini dan gw nanya ke guide yang baru ini kenapa dia mengawasi. Dia bilang, mereka ditegur karena pada dasarnya setiap pengunjung harus ditemani (mungkin maksudnya diawasi, karena banyak benda-benda berharga), dan dia bilang pengunjung hanya diberi waktu 30 menit untuk berada di situ. Whaaatttt???? Apa-apaan nih, sikap yang sangat berbeda sekali dengan Museum Peranakan yang gw pernah datangi di Penang. Padahal disana jauh lebih banyak barang berharga. Yaudah deh yang tadinya mau berlama-lama meng-explore rumah tersebut, gw segera mengakhiri kunjungan saat itu juga.

Tjong A Fie Mansion
Jalan Ahmad Yani (Kesawan) No 97-99, Medan
Jam Buka: Setiap hari (09:00-17:00)
Biaya Masuk: Rp. 35.000
www.tjongafiemansion.com

Masjid Raya Al-Mashun

Bangunan utama Masjid ini berbentuk segi delapan simetris

Masih dengan perasaan sedikit kesal, gw jalan kaki sampai ke ujung jalan Kesawan untuk sekedar melihat-lihat bangunan peninggalan kolonial yang ada. Dari situlah gw baru melanjutkan dengan naik Becak Motor untuk menuju ke Masjid Raya Al-Mashun sekaligus ke Istana Maimun. Dari Rumah Tjong A Fie sebenernya nggak terlalu jauh kalo mau jalan kaki, tapi biar cepet dan praktis gw putuskan naik Bentor aja. 


Masjid ini memang megah banget. Arsitekturnya juga sangat mengagumkan, karena banyaknya detail dan juga ornamen yang tampak dari fasad depannya. Tetapi tahan dulu rasa kagum saat melihat tampilan luar masjid ini, karena ketika kita masuk ke dalamnya kita akan lebih terpana melihat betapa mewah material yang digunakan pada interior masjid. Untungnya waktu itu ada seorang Bapak yang menghampiri dan menyapa dengan ramah, dia lalu mengajak saya berkeliling dan menjelaskan sedikit sejarah dari masjid yang mulai dibangun dari tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909 ini. Pembangunan selesai tepat pada saat pelaksanaan sholat Jum'at pertama di masjid ini. Secara keseluruhan arsitekturnya merupakan penggabungan karakteristik India (Moghul), Maroko, bangunan kerajaan Islam di Spanyol (Andalusia), serta Melayu itu sendiri.

Tampak Depan Masjid Al-Mashun yang Sangat Megah

 
Kiri: Lorong selasar yang berada di empat sisi luar ruang shalat utama dihiasi jendela berbentuk lengkungan.
Ini merupakan salah satu ciri bangunan kerajaan-kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan.
Kanan: Kaca patri untuk jendela di datangkan dari Tiongkok























Keseluruhan ornamen dan detail pada interior bangunan masjid menghasilkan tampilan yang sangat mewah

Dengan menelan dana sebesar satu juta Gulden, masjid ini menggunakan banyak sekali bahan bangunan impor seperti marmer dari Itali dan Jerman, kaca patri dari Tiongkok, serta lampu gantung dari Perancis. Seperti yang sudah gw sebutkan sebelumnya, selain Sultan Ma'mun Al Rasyid, Tjong A Fie juga turut mendanai pembangunan masjid ini. Prinsip Sultan memang sengaja membuat masjid ini bahkan lebih mewah dari istananya sendiri, jadi nggak heran kalau materialnya benar-benar finest quality. 

Masjid Raya Al-Mashun
Jalan Sisingamangaraja (Jalan Masjid Raya), Medan
Biaya Masuk: -
Jam Operasional: -

Istana Maimun

Meski interior Istana Maimun dipenuhi ornamen bergaya India, namun lampu gantung kristal menunjukkan adanya sentuhan Eropa  

Beranjak ke lokasi wisata berikutnya yang juga merupakan ikon Kota Medan, Istana Maimun iniletaknya tidak jauh dari Masjid Al-Mashun. Dulunya Masjid ini memang merupakan satu bagian dari halaman istana. Walaupun tidak semegah tampilan depan Masjid Al-Mashun, namun arsitektur dari bangunan istana ini sebetulnya tidak kalah istimewa. Mengambil ciri bangunan yang kurang lebih sama dengan arsitektur Masjid Al-Mashun, yaitu dari India (Moghul), Maroko, arsitektur Islam di Spanyol, dan Melayu. Warna kesultanan Deli yaitu Kuning dan Hijau juga menjadi ciri khas dari Istana yang dibangun pada tahun 1888 ini. Halaman depan yang luas dan dipenuhi rumput hijau menjadikannya sayang untuk melewatkan berfoto disini. Hehe...

Nggak kelewatan berfoto di depan halaman istana 

Kiri: Singgasana raja yang berada di bangunan utama Istana
Kanan: Sebagian besar perabotan yang ada merupakan perabotan yang masih otentik dari jaman Kesultanan Deli

Istana ini terdiri dari dua lantai dan memiliki tiga bagian, yaitu bangunan utama (tengah) dimana singgasana sultan berada, lalu bangunan sayap kiri dan kanan. Dengan hanya membayar Rp. 8000, kita dapat mengetahui sejarah Kesultanan Deli sekaligus melihat benda-benda peninggalannya mulai dari perabotan, furnitur, senjata, baju adat, maupun foto-foto. Disini kita juga bisa menyewa baju adat untuk kemudian berfoto di depan singgasana raja. Sayang waktu kesana gw sendiri jadi nggak mungkin kan kepedean foto sendirian.... hehehe.... Jadi harga paket sewa baju dan fotonya juga gw nggak nanya berapa.

 
Sajian musik Melayu di beranda Istana Maimun

Video pendek berisi potongan gambar Istana Maimun dengan backsound musik Melayu

Dengan segala keunikan arsitektur dan juga kemewahan interiornya, Istana Maimun jelas tempat wisata yang wajib dikunjungi di Medan. Apalagi kalau sedang beruntung kaya gw kemaren, lagi ada performance musik Melayu-nya... Wah, bener-bener pas antara suasana dan backsound-nya! ;) Berhubung hari sudah semakin siang, ada baiknya tujuan berikut adalah mencari tempat makan siang!

Istana Maimoon
Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Medan
Biaya Masuk: Rp. 8000
Jam Operasional: 08.00-16.00

Makan Siang di Mie Aceh Titi Bobrok



 

Walaupun bukan makanan otentik Medan, namun kedai yang satu ini sudah jadi destinasi wisata kuliner yang wajib di sana. Nama Titi Bobrok konon berarti jembatan rusak, yang lokasinya memang berada di sebelah kedai. Tapi walaupun sekarang jembatannya udah bagus, nama ini tetap diabadikan jadi nama kedainya. Alasan gw milih makan siang disini adalah karena pada dasarnya gw penggemar Mie Aceh. Dari depan kedai kelihatannya nggak terlalu besar tempatnya, tapi di bagian lantai duanya memanjang ke belakang dan ternyata cukup luas juga.

Banyak orang kesini untuk mencoba Mie Aceh Kepiting-nya. Tapi berhubung gw bukan penggermar kepiting, gw pilih mie goreng udang aja. Selain di goreng, sebetulnya kita juga bisa memilih mie kuah atau juga mie basah (nggak kering, tapi juga nggak terlalu berkuah). Aroma rempah yang sangat khas sudah terasa dari suapan pertama, bener-bener gurih. Jadi nggak salah memang kalo orang memfavoritkan kedai Mie Aceh ini. Udang-nya juga besar-besar jadi puas banget makannya. Makan seporsi aja udah kenyang, jadi nggak sempet pesen menu lainnya deh yang sebenernya juga jadi andalan kedai ini yaitu Martabak Telur.

Mie Aceh Titi Bobrok
Jalan Setiabudi No. 17 C
Telepon: 061-77809267
Jam Buka: 11.00 - 21.00

Gagal Memburu Molen Arab

Photo Courtessy: molenarab.com


Dari serangkaian trip ke Medan, disinilah letak kejadian paling kocak terjadi. Hehehe... Berawal dari Uni Nira, Kakak (waktu itu masih calon) Ipar gw yang pernah dibawain oleh-oleh molen ini sama temennya dari Medan. Nah, mendengar gw pergi ke Medan, diapun nitip bawain molen ini. Memang dari namanya yang agak provokatif ini rupanya jadi daya tarik tersendiri. Karena gw juga jadi penasaran, gw bela-belain deh berburu Molen Arab yang mulai populer di media sosial ini. Dengan ber-armada-kan Bentor (lagi-lagi), gw berangkat dari kedai Mie Aceh Titi Bobrok untuk mengarungi kota Medan menuju ke alamat yang diinfokan sebagai tempat penjualan molen ini. Si Abang bentor langsung mengenali kalo alamat tersebut berada di sekitaran USU alias Universitas Sumatera Utara. Agak lega juga karena dia familiar dengan alamatnya. Eh, belum sampai lokasi, ban Bentor-nya kempes sodara-sodara... Walhasil ikut si abang Bentor nambal ban dulu di bengkel... Waduhh... Ada-ada aja!



Seusai ban ditambal, Bentor siap melaju lagi. Dan sekarang sudah terasa suasana kampus dengan mahasiswa yang lalu lalang di antara gedung-gedung fakultas yang ada di USU. Tapi tanda-tanda tempat dijualnya Molen Arab ini sama sekali tidak ditemukan. Mau nggak mau, nanya deh sama segerombolan mahasiswi yang sedang menunggu angkutan umum. Kurang lebih percakapannya demikian:

Gw: "Permisi dik, mau nanya, tau nggak ya kalo mau beli Molen Arab dimana?"
Mahasiswi: "Apaaa....????" (ekspresinya tercengang mendengar Molen Arab)
Gw: "Iya, Molen Arab"
Mahasiswi: "Nggak, nggak tau...." (kemudian cekikikan dengan teman-temannya)
Gw: "...."

Haha... Mungkin dikiranya gw bercanda kali ya. Tapi yah gimana dong, emang nama Molen Arab ini konotasinya agak gimanaa gitu. Muter-muter kompleks USU berkali-kali udah kayak tawaf dan dari beberapa mahasiswa/i yang gw tanya, mereka nggak semuanya pernah denger makanan ini. Tapi ada juga yang ngasi tau kalo mereka pernah denger Molen Arab ini adanya di kantin FISIP. Wah, kalo main ke dalem kantin kayaknya gw agak nggak pede ya nyelonong ke kampus orang. Terlebih lagi, waktu itu udah mulai sore jadi kampus sudah sepi. Well, akhirnya gw gagal menemukan si Molen Arab ini. Sewaktu tulisan ini dibuat, gw sempet googling untuk ngedapetin kontaknya. So, buat kamu yang lagi di Medan, atau berencana ke Medan, bisa kontak mereka disini:

Molen Arab
Kantin Kampus FISIP USU
Jl. Dr. A. Sofyan No. 1, Medan
Telepon: 0823-6836-9570
Twitter: @MolenArab
www.molenarab.com

Sampai Jumpa Lagi, Medan!


Memburu Molen Arab tidak berhasil, tapi bukan berarti pulang dengan tangan kosong. Medan punya oleh-oleh lainnya yang memang sudah sangat terkenal yaitu Bolu Meranti dan juga Bika Ambon Zulaikha. Abis beli oleh-oleh, langsung deh balik ke Stasiun Medan buat ngambil koper yang tadi pagi dititipin di resepsionis hotel.

Selanjutnya beli tiket kereta bandara di lantai 2 stasiun, dan langsung bergegas berangkat ke Kuala Namu. Karena interval yang nggak terlalu sering, maka kita harus memperkirakan antara jam keberangkatan kereta dan jam penerbangan dengan pas. Baiklah, ini akhir perjalanan gw di Medan. Trip yang sangat singkat demi nyoba kereta bandara, tapi nggak cuma itu, banyak sekali pengalaman lainnya yang didapat. Sampai jumpa lagi, Medan... Horas!!!

You Might Also Like

0 comments

Like Me on Facebook

Pinterest Board

Subscribe