Bulan Madu di Jepang, Hari ke-2: Akses Menuju Tokyo Disney Sea

Friday, January 09, 2015


Berkas cahaya yang masuk dari sela-sela tirai kamar hotel membuatku tersadar bahwa hari sudah pagi. Kubuka tirai kamar lebar-lebar agar bisa memandang ke luar. Wah, ternyata gerimis. Aku berharap mudah-mudahan tidak semakin deras, karena di hari kedua itu jadwal kami untuk pergi ke Tokyo Disney Sea. Tidak ingin memaksakan diri, kami kemudian berniat untuk menunggu gerimis reda sebelum meninggalkan hotel. Apalagi memang Tokyo Disney Sea buka hingga malam hari, jadi nggak ada masalah kalau perginya agak siang. Berada di dalam kamar hotel kami di MyStays Gotanda yang kecil itu jadi terasa sangat nyaman di cuaca yang mendung dan gerimis seperti pagi itu.

Oh iya, di postingan sebelumnya aku sudah menyebutkan kalau impresi pertama hotel ini agak membuat kami shock dengan bentuk lorong-lorongnya yang semi terbuka. Tapi walaupun lorong-lorong ini mengingatkanku dengan film horor Jepang, tapi sebetulnya hotel ini sama sekali nggak serem kok. Saat pertama kali masuk kamar, kami lebih shock lagi karena ukurannya yang ternyata sangat sempit. Bahkan saking sempitnya kalau mau buka koper di lantai, idealnya kami harus bergantian. Meskipun sempit, orang Jepang memang harus aku akui sangat efisien dalam hal penataan ruangan. Dengan banyaknya rak penyimpanan yang tersedia, kamar ini memiliki lebih dari apapun ekspektasi kami: kulkas, microwave, TV, dan bahkan hair dryer. Ukuran kamar mandinya juga sangat kecil, tapi sangat compact. Ada closet duduk, shower, serta mini bath tub lengkap dengan sabun dan shampo.



Beruntung gerimis di pagi itu tidak berlangsung lama, kami lalu segera mandi. Sebelum meninggalkan hotel, aku kembali membuka website Gurunavi dari smartphone untuk membantuku memutuskan mau makan apa dan di mana untuk sarapan. Ternyata tidak jauh dari stasiun Gotanda ada Coco Ichibanya, resto yang menyajikan Japanese curry. Di Jakarta aku memang pernah melihat resto ini sebelumnya ada di Grand Indonesia, tapi nggak nyangka kalo ternyata resto ini franchise dari Jepang. Saat menuju ke Coco Ichibanya, aku melihat orang-orang yang berjalan kaki semuanya menenteng payung. "Wah betul juga ya kami nggak punya payung kalau tiba-tiba hujan lagi", pikirku dalam hati.

Late Breakfast di Coco Ichibanya


Sebagaimana tipikal resto fastfood yang aku temui selama di Jepang, Coco Ichibanya ini ruangannya juga sangat kecil. Ciri lainnya juga terlihat dari adanya meja counter yang langsung berhadapan dengan pantry untuk menyiapkan makanan. Kami kemudian duduk di meja counter tersebut, sambil mengamati cara kerja para pelayan yang sangat tangkas dan gesit itu. Bagaimana tidak, mereka ini multitasking sebagai pelayan sekaligus sebagai juru masak juga. Sebagai resto fasfood Jepang yang sudah go international, Coco menyediakan buku menu yang bilingual, sehingga kami tidak menemui kesulitan saat akan memesan makananan. 


Selain menu yang sudah menjadi kreasi mereka, Coco juga menyediakan menu customize yang bisa disesuaikan dengan keinginan kita. Pertama kita menentukan terlebih dahulu kaldu kuah karinya. Ada pilihan yang pork (¥442), beef (¥597),  atau hashed beef (¥597). Untuk yang hashed beef, kuahnya nggak cuma polos aja karena ada tambahan potongan daging sapinya. Selanjutnya kita diminta untuk menentukan porsi nasi. Kalau standardnya 300gr tidak perlu nambah harga lagi. Tapi kalau mau upsize ke 400gr tambah ¥103, dan untuk 500gr tambah ¥206. Kalau ukuran standar dirasa kebanyakan, kita juga bisa minta dikurangi ke 200gr dan harganya juga akan dikurangi ¥51 dari harga reguler. Kemudian tingkat kepedasan juga bisa diatur.  Untuk kategori mild dan regular tidak ada penambahan harga. Tetapi untuk menambah satu level kepedasan dikenakan charge ¥21 sampai ke level teringginya yaitu level 10 (¥105). Kalau semua tadi sudah ditentukan, baru kita bisa menambahkan berbagai pilihan topping mulai dari katsu, sosis, hingga daging burger.

Coco Ichibanya - Gotanda Ekimae
The 15th anti-field building 1F
5-27-6, Higashigotanda, Shinagawa-ku
Tokyo, 141-0022
Costs for two: ¥1500 ~ ¥1800


Menuju Disney Sea via Tokyo Station


Hari sudah semakin siang, kami kemudian melanjutkan perjalan untuk menuju ke Tokyo Disney Sea. Letaknya memang sedikit keluar dari pusat kota, sehingga waktu yang diperlukan untuk menuju ke sana dari stasiun Gotanda kurang lebih sekitar 1 jam. Rutenya adalah kami akan menuju ke stasiun Tokyo terlebih dahulu dengan kereta JR Yamanote (¥170), lalu dilanjutkan dengan kereta Keiyo Line untuk menuju stasiun Maihama (¥220). Nah kalau sudah mampir ke stasiun Tokyo, jangan sekali-kali melewatkan untuk berfoto di depannya. Stasiun ini adalah stasiun utama di Tokyo yang tidak hanya melayani rute-rute kereta lokal dan komuter, tetapi juga kereta antar-kota seperti Shinkansen. Menurut yang aku baca dari Wikipedia, dalam sehari ada lebih dari 3000 perjalanan kereta yang dilayani stasiun ini. Dan hal ini menjadikannya stasiun tersibuk ke-5 di Jepang bagian Timur. 


Tapi bukan soal sibuknya yang menjadikan aku ingin berfoto disini. Ini soal arsitekturnya yang sangat mengagumkan. Bangunan tiga lantai dengan fasad bata merah ekspos ini mulai dibuka pada tahun 1914 setelah memakan waktu pembangunan selama enam tahun. Sempat mengalami kehancuran yang hebat saat perang dunia ke-II, tetapi proses restorasi setelahnya menjadikan stasiun ini tetap mempesona. Konon, desain stasiun ini terinspirasi dari Amsterdam Central Station, Belanda. Jadi tak perlu heran kalau penampilannya terlihat sangat Eropa sekali. Ini menjadikan Stasiun Tokyo sangat kontras dengan gedung-gedung tinggi moderen di sekitarnya, dimana daerah Marunouchi tersebut adalah wilayah business district yang sangat bergengsi di Tokyo.


Mengingat perjalanan masih jauh, kami tidak ingin terlalu lama berfoto-foto di situ. Kembali masuk ke dalam stasiun untuk segera naik kereta Keiyo Line. Ternyataaaa.... platform jalur kereta Keiyo Line ini bukanlah di bangunan stasiun utama tempat aku berfoto-foto tadi. Kami harus berjalan kaki lumayan jauh juga melalui underground tunnel untuk menuju kesana. Untunglah papan petunjuk yang ada cukup jelas sehingga tidak khawatir tersesat. Untuk menuju Tokyo Disney Sea dengan kereta Keiyo Line, stasiun Tokyo ini adalah titik awal keberangkatan. Jadi ketika kami masuk ke dalam kereta masih tersedia cukup banyak tempat duduk. Lumayan cape kan kalau harus berdiri sampai ke sana, apalagi tadi habis jalan jauh mencapai ke kereta ini.





Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, akhirnya kami sampai di stasiun Maihama yang terletak persis di depan pintu masuk Tokyo Disney Resort yang mencakup Disney Sea maupun Disneyland itu. Tak disangka hujanpun turun dengan derasnya saat kami melangkah masuk ke area Welcome Center dari Disney Resort tersebut. Uh-oh.... Hal yang paling aku khawatirkan sejak tadi pagi ternyata kejadian juga. Masih beruntung karena area Welcome Center ini tempatnya beratap. Tetapi tidak begitu saat harus berjalan ke stasiun Resort Gateway untuk naik monorel yang akan membawa kami ke Tokyo Disney Sea. Melihat hujan yang tidak ada tanda-tanda akan segera reda, kami lalu nekat berlari-lari ke stasiun monorel itu. Karena pembelian tiket monorel Disney Resort ini melalui mesin tiket, jadi bisa dibayar pake kartu Suica juga. Selanjutnya kami menuju ke lantai atas stasiun yang merupakan platform untuk menunggu monorel. Tak lama serangkaian gerbong berwarna putih dengan jendela berbentuk siluet Mickey Mouse itupun tiba. 

Time to Have Fun!




Sesampainya di stasiun Tokyo Disney Sea, hujan deras masih terus mengiringi saat kami berjalan menuju ke counter pembelian tiket, bahkan hingga saat berada di gerbang pemeriksaan tiket. Uang yang perlu dikeluarkan untuk membeli tiket Tokyo Disney Sea adalah ¥6400. Sebagai catatan, di Disney Sea ini tripod kamera tidak boleh dibawa masuk. Petugas pemeriksa tiket yang memberi saran kepadaku untuk menyewa loker guna menyimpan tripod yang aku bawa. Kalo tidak salah, sekali menyewa kotak loker ukuran kecil biayanya ¥300. Selesai dengan urusan loker, yang ada di pikiran kami saat itu adalah membeli payung. Mencoba peruntungan ke toko suvenir, dan untungnya ada! Kalau bukan karena kepepet, agaknya sayang ya untuk ngeluarin duit buat beli payung bertuliskan Tokyo Disney Sea seharga ¥1000 itu. Tapi nggak apa-apa lah ya, bisa buat kenang-kenangan yang fungsional juga kan?



Berbekal peta yang dibagikan gratis saat membeli tiket di konter tadi, kami mulai menjelajah theme park seluas 71 Hektar itu. Secara garis besar, Disney Sea terbagi menjadi tujuh area/ tema: Mediterranean Harbor, American Waterfront, Mysterious Island, Mermaid Lagoon, Arabian Coast, Port Discovery dan Lost River Delta. Kalau mau mencoba semua wahana, mungkin kita harus seharian penuh disini. Tapi untuk mempersingkat waktu, kami memang hanya memilih yang menantang adrenalin saja. Oh iya berdasarkan pengalaman kami, antrian di setiap wahana terutama wahana-wahana yang seru itu bisa sangat panjang dan melelahkan. Nah kalau sudah begini pengunjung bisa memanfaatkan fasiltas Fast Pass. Jadi tinggal scan karcis masuk ke mesin Fast Pass yang tersebar di beberapa titik, lalu mesin akan mengeluarkan kupon bertuliskan jam berlaku Fast Pass di hari itu. Sepanjang durasi kupon ini berlaku, kita tinggal tunjukkan ke pintu masuk wahana dan kita akan dipersilahkan ke jalur antrian khusus Fast Pass yang tentu lebih cepat. Sayangnya ketika aku menyadari ada fasilitas ini, kupon Fast Pass sudah tidak tersedia karena dalam sehari sepertinya ada batasan kuota kupon yang dibagikan.

---

Permainan apa saja yang kami coba selama di Tokyo DisneySea ini? Sabar ya... Karena nanti akan diceritakan secara lebih detail di tulisan selanjutnya "Bulan Madu di Jepang, Hari ke-2: Bersenang-senang di Tokyo Disney Sea !"




You Might Also Like

0 comments

Like Me on Facebook

Pinterest Board

Subscribe