Bulan Madu di Jepang, Hari ke-5: Ginza & Tokyo Tower

Monday, January 18, 2016



Sebetulnya postingan kali ini nih semacam edisi "dibuang sayang". Hehehe... Gimana enggak, kita cuma sekedar "hinggap" aja di Ginza dan Tokyo Tower mumpung masih ada sedikit sisa waktu setelah seharian kita main ke Gunung Fuji. Kalau dipikir-pikir memang Saya gak mau rugi ya, mumpung lagi di sana jadi semua destinasi ingin disambangi walaupun sebentar-sebentar.

Berfoto di Landmark Ginza, Lalu Makan Malam

Jadilah akhirnya setelah kembali tiba di Shinjuku, kami melanjutkan perjalanan ke Ginza. Ginza adalah distrik yang paling termahsyur di Tokyo untuk berbelanja barang mewah, tempat dimana kita bisa menemukan butik ternama, restoran, hiburan malam, dan cafe yang high-class. Satu meter persegi tanah di pusat distrik ini dapat mencapai harga lebih dari 10 juta yen, yang menjadikannya wilayah termahal di seluruh Jepang. Untuk mengakses Ginza dari Stasiun Shinjuku, kami menaiki Tokyo Metro rute Marunouchi Line (¥200).

Tidak ada hal khusus yang ingin kami lakukan atau kami lihat di Ginza. Hanya sekedar ingin tahu seperti apa suasana di sana. Berjalan keluar dari stasiun Ginza yang berada di bawah tanah, memang terasa sekali kalau distrik ini sangat upscale. Hampir seluruh butik fashion ternama memiliki toko disini. Sebut saja Bvlgari, Cartier, Chanel, Gucci, Hermes, Prada, Louis Vuitton, dan masih banyak lagi. Sempat ingin melihat-lihat ke dalam toko-toko tersebut, tapi sangat disayangkan sudah tutup semua. Dari papan jam operasional toko yang dipajang di depan pintu, Saya kemudian mengetahui bahwa toko-toko tesebut hanya buka rata-rata sampai jam 7 - 8 malam saja. Dan ketika kami sampai di Ginza memang sudah lewat dari jam 8.

Karena tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, kemudian kami menuju ke salah satu landmark Ginza sambil mencari restoran untuk makan malam. Landmark yang Saya maksud adalah Ginza Wako Building. Bangunan yang didirikan pada tahun 1932 ini adalah simbol dari Ginza itu sendiri. Terletak di sudut sebelah Barat Laut di perempatan jalan Chuo Dori dan Harumi Dori, di dalam gedung ini menjual perhiasan dan barang-barang mewah lainnya.

     
Kiri: Ginza, Distrik Kelas Atas di Tokyo
Kanan: Restoran Ootoya di Ginza Terletak di Lantai Basement

Untuk makan malam kami akhirnya memutuskan untuk makan di Ootoya yang lokasinya tidak jauh dari Ginza Wako. Memang dengan menyewa mobile wi-fi selama di Jepang, kami tidak pernah kesusahan untuk mencari tempat makan. Kami selalu mencari tahu tempat makan terdekat dengan mengakses aplikasi Gurunavi di Iphone kami. Dari aplikasi ini kita bisa mencari daftar restoran berdasarkan lokasi, tipe makanan yang disajikan, hingga range harga. Nah, kalau Ootoya memang kami sudah cukup familiar dengan menu-menunya, karena sudah pernah makan di restoran mereka di Jakarta.


Chika's Fav Menu: Saba (Grilled Mackarel)

Gurunavi Apps on iPhone



Ootoya Ginza Mitsukoshimae
5-9-1 Ginza | B1F, Chuo 104-0061, Tokyo
+81-3-6280-6658
Operational Time: 11am - 10.30pm
Costs for Two: ¥2000 ~ 2500
www.ootoya.com

Nightwalking ke Tokyo Tower


Satu tempat terakhir di malam itu yang kami tuju adalah Tokyo Tower. Tadinya sih nggak ada rencana akan ke sini. Tapi berhubung di Ginza nggak dapet apa-apa, akhirnya Saya memutuskan untuk mengakhiri hari di sini. Kalau di Ginza tadi kami berfoto dengan Ginza Wako sebagai landmark-nya, Tokyo Tower juga merupakan sebuah landmark yang sayang dilewatkan untuk  berfoto di depannya. Ya, inilah landmark dari kota Tokyo secara keseluruhan.

Dengan kondisi jalanan yang sudah sepi, dan temaramnya trotoar karena toko-toko sudah tutup, berjalan kaki dari satsiun Kamiyacho ke Tokyo Tower memang punya sensasi tersendiri. Dari stasiun Ginza tadi kami naik kereta Tokyo Metro rute Hibiya Line (¥170) untuk mencapai area ini. Tidak terlalu jauh sebetulnya dari stasiun untuk mencapai Tokyo Tower, tapi karena kami sudah cukup lelah, serta kondisi jalan yang menanjak, berjalan kaki ke sana menjadi tantangan tersendiri.

Namun rasa lelah terbayarkan dengan melihat indahnya pendaran lampu yang sangat gemerlap dari Tokyo Tower. Sebuah pemandangan yang sangat kontras setelah kami tadi melalui jalan-jalan yang temaram untuk menuju ke sini. Berdiri di tengah-tengah kota Tokyo, menara yang tingginya mencapai 333 meter ini merupakan bangunan baja tertinggi di dunia, bahkan 13 meter lebih tinggi dari menara yang menjadi panutannya, Menara Eiffel. Bangunan ini juga merupakan simbol dari kebangkitan ekonomi Jepang pasca-perang dunia. Walaupun rekornya sebagai bangunan tertinggi di Jepang sejak pembangunannya selesai di tahun 1958 telah terpatahkan oleh Tokyo Skytree pada tahun 2012, Tokyo Tower tetap menjadi objek wisata yang populer di Tokyo.

Setelah puas foto-foto, saatnya kami kembali ke hotel. Kami naik kereta Tokyo Metro rute Asakusa Line (¥220) dari stasiun Daimon ke stasiun Gotanda. Dan hal yang tidak akan kami lupa adalah saat berjalan kaki menuju stasiun Daimon, kondisinya lebih gelap dan lebih sepi dibandingkan dengan jalan yang kami lewati saat berangkat ke Tokyo Tower. Jalan kecil dengan pepohonan yang rimbun ini berada di samping kuil Buddha bernama Zojo-ji. Agak ngeri-ngeri gimanaa gitu sebenernya lewat jalan ini. Tapi untungnya, ada beberapa orang lainnya yang juga berjalan ke arah yang sama.

---

Itulah malam terakhir kami di Tokyo, dan kami menutupnya dengan melihat Tokyo Tower yang sangat menakjubkan. Nantikan bagian terakhir dari tulisan perjalan bulan madu kami di Tokyo: "Bulan Madu di Jepang, Hari ke-6: Asakusa & Omotesando". Dan inilah rincian pengeluaran kami di hari ke-5 ini:


Thanks for stopping by at Novandito.com!

You Might Also Like

0 comments

Like Me on Facebook

Pinterest Board

Subscribe