Honeymoon Trip to Japan, Day 6: Last Day (Asakusa)

Monday, March 28, 2016


Akhirnya sampai juga di bagian terakhir dalam rangkaian tulisan Honeymoon Trip to Japan. Meskipun delayed hampir dua tahun, tapi mudah-mudahan niat tulus saya dalam membagikan cerita ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membaca tulisan-tulisan ini khususnya untuk Anda yang memang berencana pergi ke Tokyo.

Akses Menuju ke Asakusa

Courtessy of JapanGuide.com

Di hari ke-enam ini kami pergi ke tempat yang cukup touristy di Tokyo, yaitu ke kuil Senso-Ji di Asakusa. Kemudian sisa waktu yang ada sebelum ke bandara kami pergunakan untuk jalan-jalan lagi ke sekitar Shibuya dan Omotesando. Akses menuju ke Asakusa terbilang cukup mudah dari stasiun Gotanda. Hanya sekali naik kereta Tokyo Metro jurusan Asakusa Line (¥270), dan turun di Asakusa Station. Untuk mencapai kuil, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 5 menit saja. 

Sarapan Sushi di Gansozushi

Suasana Shin-Nakamise Shopping Street di Siang Hari

Karena memang kuil Senso-Ji ini merupakan salah satu tujuan turis yang populer di Tokyo, area sekitarnya dipenuhi dengan pusat perbelanjaan. Salah satunya adalah Asakusa Shin-Nakamise Shopping Street, di mana kami menyempatkan diri untuk makan pagi di sebuah kedai sushi murah-meriah. Banyak yang bilang kalo makan sushi di Jepang itu super duper mahal. Tapi kedai sushi bernama Gansozushi yang kami datangi itu harga makanannya sangat affordable. Sebagaimana restoran dengan konsep conveyor belt, harga seporsi sushi mereka bervariasi sesuai kode warna piring yaitu: ¥95, ¥125, ¥160, ¥200, ¥250, ¥380, ¥500, ¥600 & ¥700. Untuk rasa, cukup oke lah dengan harga segitu. Ikannya juga terasa fresh. Untuk minumnya kita sudah disediakan mug, berikut bubuk teh hijau yang juga sudah tersedia di meja. Untuk menyeduhnya, air panas dapat dituang dari semacam keran yang ada di meja.




Gansozushi (Sushi Go-round Restaurant)
1 Chome-19-7
Asakusa, Taito, Tokyo, 111-0032
Opening hour: Everyday, 11.00 ~  21.30
Cost for two: ¥ 1500 ~ 250
www.gansozushi.com (site in Japanese)



Berburu Suvenir di Nakamise Street



Pergi ke Asakusa, khususnya untuk mengunjungi kuil Senso-Ji, kurang lengkap kalau tidak berburu suvenir di Nakamise Street untuk oleh-oleh. Jalan yang membentang sejauh 250 meter, mulai dari gerbang Kaminarimon hingga ke Hozomon (gerbang kedua kuil Senso-Ji) memiliki total lebih dari 50 gerai toko. Konon Nakamise Street ini adalah sebuah jalan tempat berbelanja tertua yang ada di Tokyo. Kebanyakan suvenir disini adalah kerajinan tangan khas Jepang dari zaman Edo seperti gantungan kunci, poster lukisan tradisional, kipas, dll. Karena kebanyakan suvenir di sini buatan tangan, sehingga harganya tentu lebih mahal jika dibandingkan dengan suvenir di Daisho yang barangnya buatan pabrikan.

Membayangkan Masa Lalu Kota Tokyo di Kuil Senso-Ji


Daya tarik kuil tertua di Tokyo berwarna merah terang ini ternyata tidak hanya menjadi magnet bagi wisatawan asing saja. Justru saat kami ke sana, mayoritas yang datang adalah orang Jepang sendiri. Bagaimanapun kuil ini kan adalah tempat ibadah, khususnya untuk mereka yang menganut ajaran Buddha. Dengan bentuk bangunan yang berarsitektur tradisional dan kaya akan detail, kuil ini nampak sangat kontras dengan bangunan moderen bertingkat di sekitarnya. Meskipun demikian, bangunan-bangunan yang ada di Senso-Ji ini bukanlah bangunan asli ketika pertama kali kuil ini didirikan. Menurut sejarah, saat perang dunia ke-dua, beberapa bangunan hancur karena bom.  



Aula utama, bangunan yang berada di tengah, dibangun kembali pada tahun 1958 melalui sumbangan yang dikumpulkan dari para penganut Buddha di seluruh Jepang. Dengan meniru bentuk aslinya, bangunan yang sekarang dibuat menggunakan struktur beton padat dan atapnya diperkuat dengan ubin titanium. Salah satu ciri yang khas dari aula utama adalah kemiringan atapnya yang dramatis, cukup curam apabila dibandingkan dengan kuil-kuil Jepang lainnya. 

Selain aula utama, pagoda bertingkat lima adalah salah satu bangunan yang paling menarik  di kompleks kuil Senso-Ji. Dibangun bersamaan dengan aula utama, pagoda ini juga telah mengalami beberapa kali kerusakan karena terbakar. Kemudian pada tahun 1973, pagoda ini berhasil dibangun kembali setelah terbakar habis selama serangan udara saat perang dunia.


Kami tidak menghabiskan banyak waktu di Senso-Ji, karena selanjutnya akan menuju ke tepian sungai Sumida yang memang tidak jauh. Saat berjalan kaki menuju sungai Sumida, kami melihat ada becak (rickshaw) yang ditarik dengan tenaga manusia. Dan Chika langsung nyeletuk kalau ini kendaraan yang sangat gak manusiawi... Hehehe... Dia belum tau aja kalo tarifnya ¥4,000 buat dua orang selama 10 menit... Mungkin kalau di jaman baheula kendaraan ini jadi salah satu opsi buat orang bepergian, tapi kalo sekarang kan hanya bersifat tourist attraction




Memandang Megahnya Tokyo Skytree dari Tepian Sumida River



Tidak ada hal khusus yang membuat saya ingin pergi ke tepian sungai Sumida ini. Tetapi dari sini kami bisa berfoto dengan latar Tokyo Skytree, yang dinyatakan sebagai bangunan tertinggi di Jepang sejak tahun 2010. Dengan tinggi 634 meter, menjadikannya sebagai tower tertinggi di dunia, mengalahkan Canton Tower. Dan bangunan ini merupakan yang tertinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa, Dubai. Dengan fakta-fakta tersebut, berfoto dengannya tentu hal yang tidak boleh dilewatkan, apalagi kebetulan kami sedang berada di sekitarnya.

Hari itu suasana di tepi Sungai Sumida amat sangat hening. Hanya ada empat sampai lima orang di sekitar kami, beberapa di antaranya sedang duduk di kursi menikmati bekal kudapannya sembari memandang arus sungai yang tenang. Berjalan menyusuri tepi sungai untuk kembali ke arah stasiun Asakusa, kami melihat ada kapal-kapal yang digunakan para turis untuk mengikuti tur Sumida River Cruise. Seru sih sepertinya, tapi sayang kami tidak punya cukup banyak waktu. 





Tadi sewaktu kami jalan-jalan di Shin-Nakamise Shopping Street, kami sempat mampir ke sebuah toko tas dan koper. Ada satu koper bagus yang harganya lumayan murah (¥5000) dan tentunya bisa kami gunakan untuk membagi beban dua koper kami yang sudah sangat overload. Hehehe... Akhirnya kami sempatkan balik lagi ke sana untuk menggandeng koper tersebut.


Menghabiskan Sisa Waktu di Seputaran Omotesando & Shibuya

Butik-butik branded di Omotesando
Courtessy of architravel.com & jennyp12.files.wordpress.com

Sambil menggeret-geret koper kosong yang baru dibeli, kami kembali ke stasiun Asakusa untuk menuju Omotesando. Dari stasiun ini hanya tinggal sekali naik kereta Tokyo Metro jurusan Ginza Line. Dengan membayar ¥240, kemudian kami turun di stasiun Omotesando.

Awalnya Chika berencana untuk belanja di salah satu butik yang ada di Omotesando, namun sayang kartu kreditnya declined. Padahal sebelum berangkat kami sudah minta ke bank penerbit untuk bisa melakukan transaksi di luar negeri. Well, belum jodoh sih ya.. Hehehe... Dengan tanpa tujuan yang pasti, kami terus berjalan kaki hingga sampai ke Shibuya. Nah, di Shibuya saya sempat melihat-lihat ke Muji Store, tapi memang karena ga berniat untuk belanja ya jadi cuma sebentar trus keluar lagi.

Muji Store, Shibuya
Courtessy of thisisslightlyepicurian.blogspot.com

Nggak kerasa hari sudah semakin siang, dan tenaga harus diisi lagi sebelum kita ke Narita. Well, di momen makan siang terakhir di Tokyo itu, lagi-lagi kami memilih Coco Curry yang kebetulan ada juga di daerah Shibuya. Hehe... Favorit banget emang resto ini. Selesai makan siang, kami kembali ke Gotanda dengan menggunakan kereta JR Yamanote dari Stasiun Shibuya (¥160). Sesampainya di hotel, kami langsung menata ulang koper kami yang dititipkan di concierge, karena kamar memang sudah di check out sejak pagi tadi kami meninggalkan hotel.



Sempat berfoto di depan hotel penuh kenangan ini bersama koper kami yang 'beranak', selanjutnya kami harus bergegas ke stasiun Gotanda, untuk ke stasiun Shinagawa (JR Yamanote, ¥170) dimana kami akan naik Narita Express dari stasiun tersebut (¥3190). Sebelum check-in penerbangan, saya harus mengembalikan mobile wi-fi yang saya sewa melalui kantor pos yang sama saat saya mengambilnya. Selain itu, kami juga menghabiskan sisa kredit yang ada di kartu SUICA dengan membeli snack, serta membeli bekal makan di McDonald karena takut di pesawat baru dapet makan besar setelah beberapa jam kami di udara. Eh, malah baru sempet kemakan pas udah nyampe di Jakarta saking kita molor terus di pesawat.

Inilah akhir tulisan perjalanan kami berbulan madu di Jepang, nantikan tulisan jalan-jalan kami di pelbagai belahan dunia lainnya! Oh iya, silahkan amati pengeluaran di hari keenam berikut ini. See you!



You Might Also Like

0 comments

Like Me on Facebook

Pinterest Board

Subscribe