Permohonan Bebas Visa ke Jepang Saya Ditolak!

Tuesday, March 06, 2018



Belakangan ini Jepang menjadi destinasi yang sangat "seksi" untuk wisatawan asal Indonesia. Foto-foto hutan bambu, deretan 'gapura' bercat merah, patung seekor Anjing yang kisah kesetiaan dengan tuannya diangkat jadi sebuah film, hingga zebra cross tersibuk di dunia, rasanya tidak pernah absen dari lini masa media sosial saya sepanjang tahun, baik yang diunggah oleh teman, hingga traveler kenamaan yang silih berganti mengunjungi negeri matahari terbit tersebut. Saya menduga, salah satu faktor yang meningkatkan minat orang Indonesia untuk berkunjung ke Jepang adalah gembar-gembor fasilitas bebas Visa bagi pemegang paspor elektronik. Namun apakah setiap pemegang paspor elektronik tersebut akan selalu mendapatkan kemudahan ini? Jawabannya, tidak!

Hal ini baru disadari saat pengajuan stiker bebas visa saya ditolak oleh kedutaan Jepang. Ya, meskipun disebut bebas Visa, namun bukan berarti Anda bisa langsung bebas melenggang ke Jepang tanpa meregistrasikan paspor elektronik Anda terlebih dahulu di kedutaan. Kalau permohonan disetujui, akan ada stiker Visa Waiver yang ditempel di salah satu halaman paspor Anda. Dengan demikian, Anda akan bebas bolak-balik ke Jepang selama tiga tahun ke depan, atau hingga masa berlaku paspor Anda berakhir (mana yang lebih dahulu tercapai). Dengan catatan, setiap kali kunjungan tidak lebih dari lima belas hari. Pengajuannya pun sangat mudah, tidak ada berkas-berkas yang perlu Anda siapkan layaknya syarat pengurusan Visa pada umumnya. Informasi lebih lanjut mengenai registrasi bebas Visa silahkan baca di website kedutaan Jepang, atau website Japan VISA Application Center (VFS Global).

Kalau Anda baca dengan seksama, di website tersebut dicantumkan bahwa bagi pemohon yang tidak dikabulkan permohonan bebas Visa-nya, harus melakukan permohonan Visa seperti biasa. Inilah poin yang saya lewatkan, atau, mungkin karena terlalu percaya diri, tidak saya hiraukan.... Hehehe. Karena mindset bahwa pemegang paspor elektronik akan diberikan kemudahan bebas Visa ke Jepang sudah telanjur tertanam begitu dalam di benak saya.


Kisah Penolakan


Rencana pergi ke Jepang sudah disiapkan. Tiket pesawat sudah ditangan. Kurang lebih tiga bulan menjelang keberangkatan, saya datang ke Kedutaan Jepang di Jakarta yang berada di Jalan Thamrin, dengan maksud meregistrasikan paspor elektronik milik istri, anak, dan saya sendiri. Muncul memori dari tahun 2012, saya pernah datang ke tempat ini bersama dengan istri (waktu itu masih berstatus pacar) untuk melakukan permohonan Visa turis. Memori yang buruk, karena permohonan kami ditolak kala itu. Tidak banyak yang berubah dibandingkan terakhir kali saya mendatangi tempat ini, kecuali antrian pemohon yang jauh lebih sedikit, karena kini kedutaan hanya melayani registrasi bebas Visa saja. Selebihnya, pengajuan Visa Jepang ditangani oleh JVAC/ VFS Global yang berada di LOTTE Shopping Avenue. 

Walaupun memiliki pengalaman buruk, saya kali ini sangat percaya diri dan tidak gentar sedikitpun. Lagi-lagi karena mindset saya tadi. Dua hari berikutnya, paspor yang diregistrasikan sudah dapat diambil. Pertama, petugas di loket menyerahkan paspor milik anak dan istri saya, lalu menunjukkan bahwa stiker bebas Visa sudah tertempel di halaman paspor mereka. Fiuhh... lega rasanya. Namun, saat akan menyerahkan paspor saya, petugas tersebut meninggalkan loket untuk menanyakan sesuatu dengan rekannya di dalam. Saya mulai khawatir ada sesuatu yang tidak beres. Dan benar saja. Petugas tersebut mengatakan bahwa permohonan registrasi bebas Visa milik saya kali ini tidak dikabulkan, dan saya diminta untuk mengajukan Visa seperti layaknya paspor biasa, sesuai dengan tujuan kunjungan.



DHUAAAARRRR.....



Kalau ibarat confetti, rasa percaya diri saya tadi meletus, dan mengeluarkan serpihan-serpihan memori buruk akan gagalnya rencana jalan-jalan ke Jepang kami di tahun 2012 silam. Saya mulai berfikir yang tidak-tidak. Kalau nanti saya ditolak lagi permohonan Visa-nya, apa yang akan saya lakukan? Apakah menyiapkan "Plan-B trip" seperti dulu di tahun 2012? Uang yang sudah dikeluarkan untuk tiket pesawat juga tidak bisa dikembalikan. Maklum, cuma mampu beli tiket promo yang non-refundable. Kemudian, akankah istri dan anak saya berani berangkat ke Jepang berdua saja kalau pada akhirnya Visa saya benar-benar ditolak? Lalu saya juga bertanya-tanya faktor apa yang membuat permohonan bebas Visa saya ini ditolak. Padahal, di paspor tersebut ada stiker Visa United Kingdom (Inggris) dan Schengen (Uni Eropa), masa' sih nggak dipercaya untuk dapet Visa Waiver, ke Jepang doangggg gitu lhooooo,,,, helllloooo... *mulai emosi.

Perlu waktu beberapa hari untuk kemudian saya menyadari bahwa ini bukanlah akhir dari riwayat. Toh, saya masih bisa mengurus Visa seperti biasa. Saya juga kemudian memahami betul ada pertimbangan faktor keamanan negara dalam pemberian bebas Visa ini. Sering saya mendengar kabar bahwa fasilitas ini disalahgunakan oknum-oknum tidak bertanggung jawab asal Indonesia untuk mencari kerja di Jepang, atau juga overstay, melebihi batas waktu kunjungan yang diperbolehkan. Sehingga mengakibatkan pemerintah Jepang memperketat pemberian bebas Visa. Bahkan, berdasarkan cerita, sekalipun sudah memiliki stiker bebas Visa, pintu-pintu masuk negara Jepang-lah (imigrasi) yang akan menentukan kita dapat memasuki negara tersebut. Kalau kebetulan kena random check dari petugas imigrasi, dan kita tidak dapat menunjukkan bukti tiket kepulangan kita dari Jepang, tidak dapat menunjukkan bukti di mana kita menginap/ tinggal selama di Jepang, atau tidak bisa menjelaskan maksud dan tujuan, serta itinerary kita, bisa-bisa kita dideportasi saat itu juga.

Perlu diketahui, bahwa kedutaan tidak akan dan tidak berkewajiban untuk memberikan alasan, ataupun penjelasan mengapa permohonan seseorang ditolak. Baik itu permohonan bebas visa, ataupun pengajuan visa kunjungan lainnya. Ini terkait dengan soal keamanan negara tadi. Ditakutkan apabila kedutaan membeberkan alasan-alasan penolakan, maka orang-orang dengan niat buruk akan mempelajarinya untuk kemudian menyembunyikan maksud sebenarnya datang ke Jepang. Namun, untuk kasus saya, saya berasumsi bahwa ini karena profil saya sebagai seorang pria di usia produktif, sehingga berpotensi menyalahgunakan fasilitas bebas visa untuk tujuan lain seperti misalnya berbisnis atau mencari kerja. Terlebih, saya punya track record pernah ditolak pengajuan Visa Jepang-nya.

Pengajuan Visa 


Selanjutnya saya mengurus Visa selayaknya pengguna paspor biasa. Duh, ngapain juga ya dulu bikin paspor elektronik kalo ujung-ujungnya urus Visa juga. Mana paspor elektronik kan lebih mahal dari paspor biasa. Ditambah lagi biaya Visa ke Jepang ini semakin mahal karena ada biaya administrasi dari JVAC/ VFS Global. Tapi ya sudahlah, masih untung istri dan anak saya tidak perlu urus Visa, jadi ngirit biaya untuk dua orang. Syarat untuk pengajuan Visa kunjungan sementara ke Jepang dapat dibaca selengkapnya di website kedutaan Jepang atau di website JVAC/ VFS Global.

Kebetulan karena saya akan menginap di rumah sepupu yang tinggal di Jepang, jadi saya mengajukan tipe Visa kunjungan sementara dengan tujuan mengunjungi rekan/ teman. Syarat pengajuannya sedikit berbeda dengan Visa kunjungan wisata, yaitu harus menyertakan surat undangan, dan Zairyu Card (Residence Card)/ Juminhyo (Residence Certificate). Surat ini harus asli, bukan hasil scan/ foto kopi. Sehingga harus dikirim melalui pos dari Jepang. Selain itu kita juga diminta menyertakan bukti foto bersama dengan pengundang, sehingga menegaskan kembali kita memang kenal dan pernah bertemu sebelumnya.

Setelah semua syarat-syarat dan berkas terkumpul, saya-pun mendaftar secara on-line untuk pengajuan Visa melalui VFS Global. Jam dan tanggal dapat ditentukan sendiri oleh pendaftar. Kalau mau langsung datang alias walk-in juga bisa tapi mungkin antrinya bisa lebih lama. Apabila semua berkas sudah sesuai dan lengkap, prosesnya di loket tidak lebih dari 15 menit. Kemudian kita diminta untuk membayar biaya pengajuan visa di kasir sebesar Rp370.000 (single entry Visa) ditambah Rp155.000 untuk biaya pengurusan Visa oleh VFS, sehingga totalnya Rp515.000. Pembayaran hanya bisa dilakukan dengan uang tunai, sehingga pastikan Anda membawa uang yang cukup.

Selanjutnya paspor dapat diambil kurang lebih lima hari kerja kemudian, atau bisa juga lebih cepat. Progres permohonan ini bisa kita pantau dari website, dan juga kita akan mendapatkan notifikasi melalui e-mail. Anda juga bisa memantaunya dengan memanfaatkan fasilitas notifikasi SMS, namun dengan biaya tambahan Rp30.000 yang dibayarkan pada saat pengajuan aplikasi. Akan tetapi, hasil dari permohonan (diterima atau ditolaknya Visa) tidak disebutkan melalui notifikasi. Berkas permohonan Visa waktu itu saya masukkan di hari Senin, dan ternyata Jumat pagi sudah mendapatkan notifikasi e-mail yang menyatakan bahwa paspor sudah dapat diambil kembali. Tidak sanggup menahan rasa penasaran lebih lama, hari itu juga saya datang ke VFS Global untuk ambil paspor. Dan Alhamdulillah, stiker Visa tertempel dengan manisnya di paspor.  Semanis wajah saya di stiker tersebut.  *Eh...  ;P


Yeaaah! Japan, here we come!!!

You Might Also Like

0 comments

Like Me on Facebook

Pinterest Board

Subscribe